Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Integrasi jagung di Kebun Sawit - Pabrik GUla Belum Operasi Penuh

Tanggal: 1 June 2016 | Sumber: Harian Kompas | Penulis:

JAKARTA, KOMPAS -  Pemerintah merancang program integrasi jagung dan kelapa sawit untuk menambah luas areal penanaman jagung 1 juta hektasr pada 2016/2017. Tanaman jagung akan ditanam di sekitar perkebunan kelapa sawit yang dalam penanaman kembali.

 

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Selasa (31/5) di Jakarta mengatakan, ada potensi lahan 4 juta hektar yang bisa digunakan untuk memadukan tanaman jagung-sawit di perkebunan kelapa sawit.

 

"Kita ambiil 1 juta hektar do perkebunan sawit dengan status tanamannya belum menghasilkan," ujarnya.

 

Mentan mengatakan, dalam skala yang tidak begitu luas, program ini bisa berjalan di Sumatera Barat hingga mencapai 13.000 hektar.

 

Pemerintah pernah membuat program serupa, yaitu integrasi peternakan sapi dengan kebun kelapa sawit, tetapi ternyata gagal. Mentan mengatakan, pengembangan sapi-kelapa sawit membutuhkan banyak rumput. Untuk itu, penanaman jagung dipilih karena perawatannya lebih mudah.

 

Sementara itu, Mentan mengatakan, pada 2015 realisasi impor jagung turun hampir 50 persen, dari sebelumnya tiga juuta ton. Berkurangnya impor jagung karena adanya peningkatan produksi jagung dalam negeri.

 

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia Fadhil Hasan mengatakan, integrasi jagung-sawit dalam rangka perluasan pertanaman jagung untuk meningkatkan produksi jagung nasional harus disiapkan dengan matang.

 

"Jangan sampai mengulang kegagalan integrasi sapi-sawit'" katanya. Agar integrasi jagung-sawit berjalan baik, tentu program tersebut harus diselaraskan dengan bisnis perkebunan kelapa sawit. Kalau integrasi jagung-sawit menguntungkan bagi perusahaan kelapa sawit, pasti tidak perlu ada program khusus. Petani dan pengusaha akan menjalankan program itu.

 

Tantangan pelaksanaan integrasi jagung sawit adalah soal keahlian. Perusahaan perkebunan kelapa sawit tidak memiliki ahli dalam budidaya jagung. Oleh karena itu mereka harus membayar tenaga ahli.

 

Di sisi lain integrasi jagung-sawit hanya bisa dilakukan saat tanaman sawit masih kecil. Artinya, bisnis ini bagi perusahaan berjalan sesaat, tidak terus-menerus. Belum lagi soal kecocokan iklim sawit dengan jagung, yang belum tentu sama. Kebutuhanair tanaman jagung juga harus dipertimbangkan.

 

Musim giling mundur

 

Musim giling tebu 2016 mengalami keterlambatan. Pasokan gula putih kristal nasional akan terkendala. Harga gula di pasar juga tinggi.

 

Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia Agus Pakpahan mengungkapkan, idealnya pada Juni semua pabrik gula sudah mulai menggiling tebu dengan kapasitas penuh. "Sekarang baru 50 persennya saja", katanya.

 

Keterlambatan giling tebu serentak akibat hujan yang masih terjadi. Hujan menyebabkan rendemen tebu turun bisa 40 persen dan berdampak pada penurunan produksi gula petani. Petani menunda panen agar rendemen gula dalam tebu kembali naik. Karena pada saat hujan, banyak air yang terserap batang tebu sehingga kadar air tinggi.

 

Pada kondisi normal seperti 2015, misalnya, pada bulan Juni ada pasokan gula 380.000 ton. Namun, sekarang ini diperkirakan hanya 180.000 ton. (MAS)