Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Ini tiga tantangan pengembangan bioteknologi di Indonesia

Tanggal: 29 May 2016 | Sumber: Kabar Bisnis | Penulis:

JAKARTA, kabarbisnis.com: Produk bioteknologi pertanian pada posisi paradoks.Pada satu sisi teknologi ini dapat menyelesaikan konkrit dalam ketahanan pangan.

 

"Akan tetapi juga mendapat tentangan dari masyarakat dalam penerapannya," ujar Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia(LIPI) Bambang Sunarko kepada wartawan di Jakarta, kemarin.

 

Sunarko mengatakan, setidaknya ada tiga tantangan terkait pengembangan bioteknologi di Indonesia.Pertama, dari sisi peneliti dituntut untuk menyetarakan dengan ilmu dan teknologi dunia.

 

Untuk itu,menurut Sunarko dibutuhkan ketrampilan dan fasilitas dan ekosistem yang menunjang pengembangan bioteknologi. Sehingga ini membutuhkan anggaran yang besar. Disatu sisi anggaran riset dari pemerintah terbilang minim.

 

"Anggaran penelitian sekitar 0,9% dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).Bandingkan dengan Singapura yang mencapai tiga persen," ujar Sunarko.

 

Sunarko mencontohkan dari anggaran pengembangan bioteknologi diinstitusinya hanya sebesar Rp 35 miliar. Sekitar 40% diperuntukan untuk mebiayai belanja rutin dan gaji pegawai."Untuk membiayai kegiatan riset mencapai 35-40 persen," kata dia.

 

Sunarko menghitung kebutuhan pemeliharaan sejumlah alat penelitian yang dianggarkan hanya Rp 500 juta dari kebutuhan riilnya yang menimal mencapai 10 kalinya. "Percuma kalau harga alat mahal tapi kita tidak dapat merawatnya dengan baik," terangnya.

 

Keterbatasan anggaran riset itu pengujian produk benih biotek dari uji pangan.lingkungan juga pakan sulit berjalan paralel. Begitu pula dengan pengujian varietas benih, akibat keterbatan dana riset itu menyebabkan hal itu terbatas di dua lokasi dari rencana lima lokasi.

 

Kedua, menurut Sunarko, apakah hasil dari teknologi tersebut  dapat menyesuaikan dengan regulasi yang ada. Tanaman transgenik yang dihasilkan memenuhi prinsip aman pangan, pakan dan lingkungan.

 

Adapun tantangan pengembangan bioteknologi yang ketiga, sambung Sunarko adalah penerimaan hasil produk bioteknologi itu di masyarakat. "Tantangan yang utama adalah teknologi ini dijamin diterima oleh masyarakat," ujar Sunarko.

 

Menurut Sunarko tantangan secara teknis relatif dapat diselesaikan para peneliti. Kemudian penyesuian regulasi dapat bekerjasama dengan pihak lain terkait proses pengujian.

 

Namun penerimaaan masyrakat terhadap penerimaan bioteknologi, peneliti merasa gagap dalam menjalin komunikasi, karena lebih menguasai aspek teknisnya saja.

 

Meski begitu Puslit Bioteknologi LIPI tidak berdiam diri. Lembaga ini sudah mengembangkan produk biotek diantaranya galur padi gogo tahan kekeringan.

 

 

Selain itu, produk bioteknologi sperma sexing atau menentukan jenis kelamin kelahiran melalui rekayasa kromosom x dan z sperma sapi.Peneliti Puslitbang Bioteknologi juga tengah merakit benih padi tahan hama penggerek batang yang selama ini merupakan musuh utama petani setelah hama wereng.kbc11