Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Indonesia Tertinggal dari Brasil

Tanggal: 12 May 2016 | Sumber: Harian Kompas | Penulis:

JAKARTA, KOMPAS — Produktivitas hutan tanaman Indonesia tertinggal jauh dari Brasil. Sebagai sesama negara tropis yang memiliki kesuburan dan sinar matahari melimpah tak kenal musim, keunggulan negeri "Samba" itu bisa menjadi patokan untuk mencapai intensifikasi produk kayu dan agroforestri di kawasan hutan.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia Purwadi Soeprihanto, Rabu (11/5), di Jakarta, mengatakan, intensifikasi menjadi pilihan utama saat pemerintah menjalankan kebijakan moratorium atau penghentian sementara pemberian izin baru kehutanan di hutan primer dan gambut. "Sekarang tak mungkin mengembangkan perluasan jutaan hektar karena moratorium. Mau tidak mau harus intensifikasi," katanya di sela-sela dialog Gelar Iptek Hasil Litbang dan Inovasi Tahun 2016.

Ia menyebutkan, produktivitas hutan tanaman industri (HTI) di Indonesia berkisar 20-25 meter kubik per hektar per tahun. Pada skala riset, produktivitas bisa digenjot hingga 45-60 meter kubik per hektar per tahun. Namun, angka tersebut masih jauh dari produktivitas operasional di Brasil yang mencapai rata-rata 45 meter kubik per hektar per tahun dan pada skala riset mencapai 80-100 meter kubik per hektar per tahun.

Kunci keberhasilan Brasil, menurut dia, terletak pada teknologi pemuliaan hingga perawatan tanaman dan pengembangan penggunaan kawasan hutan. Pada izin konsesi kehutanan di Brasil, dalam satu hamparan dapat ditanami tanaman kayu seperti akasia dan eukaliptus serta tanaman-tanaman pangan/energi, seperti kedelai dan tebu.

Di Indonesia, praktik itu baru diterapkan secara tumpang sari. Seperti di areal HTI PT Inhutani II di Pulau Laut, masyarakat diberi kesempatan menanam tanaman jagung di sela-sela kebun akasia. Namun, itu hanya bisa dilakukan pada 1-2 tahun awal. Setelah tanaman akasia tinggi dan naungan sangat teduh, lahan tak bisa ditanami tumpang sari.

Purwadi berharap pemerintah membolehkan penanaman tanaman pangan/bioenergi semusim atau tanaman kayu berbuah pada konsesi HTI dalam satu jalur. Itu dilakukan agar penanaman dan pemanenan bisa setiap musim. "Kalau agroforestri ini bisa dikembangkan, luar biasa potensi output (keluaran keuntungan yang didapat)," ujarnya.

Secara terpisah, Kepala Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Henri Bastaman mengatakan, pihaknya sedang mengkaji praktik agroforestri-termasuk skala ideal persentase luas tanaman kayu dengan tanaman musiman-di tingkat demplot. Ia berharap dalam waktu dekat pihaknya bisa memaparkan hasil kajiannya.

Sejauh ini, kisah pengelolaan kawasan hutan di Tanah Air diwarnai eksploitasi dan perusakan yang berdampak buruk bagi keberlanjutan jasa lingkungan.

(ICH)