Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Indonesia berpeluang jadi eksportir benih bioteknologi

Tanggal: 30 May 2016 | Sumber: Elshinta.com | Penulis:

Indonesia dinilai memiliki peluang sebagai eksportir benih produk bioteknologi atau hasil rekayasa genetika jika nantinya pemerintah telah meloloskan produk tersebut ke pasaran.

 

Pengurus pusat Croplife Indonesia Hery Kristanto di Jakarta, Senin menyatakan, saat ini beberapa negara tetangga seperti Philipina dan Vietnam telah mengadopsi penggunaan benih bioteknologi, namun mereke menghadapi kendala dalam memproduksinya.

 

Philipina, tambahnya, sejak tahun 2000 telah menggunakan benih bioteknologi namun di negara tersebut kondisi topan serta serangan hama yang tinggi intensitasnya sehingga sulit menghasilkan benih.

 

Padahal menurut dia, sekitar 1 juta hektar lahan jagung di Philipina menggunakan benih bioteknologi, jika setiap hektar memerlukan 20 kg benih maka kebutuhan benih jagung bioteknologi mencapai 20 ribu ton.

 

Menurut Hery, selama ini pasokan benih jagung bioteknologi negara tersebut didatangkan dari Argentina yang mana panen pada Januari dan dikirim baru Maret sehingga sampai ke tujuan sudah tidak segar mengingat jaraknya yang begitu jauh.

 

"Kalau benih tersebut dipasok dari Indonesia maka kondisinya bisa lebih segar," kata Corporate Engagment Lead Monsanto Indonesia itu dalam Biotech Journalist Gathering di Bogor.

 

Sementara itu, lanjutnya, di Vietnam sekitar 600 ribu hektar lahan jagung menggunakan benih biotek tersebut atau sekitar 12 ribu ton kebutuhannya.

 

Sebelumnya anggota Tim Teknis Komisi Keamanan Hayati Bidang Keamanan Pangan Muhammad Herman menyatakan, produk benih jagung transgenik tahan herbisia sudah memperoleh rekomendasi lengkap dari Komisi keamanan Hayati (KKH).

 

Namun, produk benih bioteknologi milik Monsanto ini belum dapat dikomersialkan karena belum berfungsinya kerja Tim Penilai Pelepasan Varietas (TP2V) sehubungan adanya reorganisasi Kementerian Pertanian (Kementan).

 

Menurut dia, benih jagung transgenik tersebut sebenarnya sudah siap dilepas ke pasar, karena benih tahan herbisida ini sudah memenuhi semua persyaratan yakni lolos dan dinyatakan aman bagi kemanan pangan (BPOM), lingkungan (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) dan pakan (Kementan).

 

Namun, setelah enam bulan Tim KKH mengeluarkan rekomendasi keamanan untuk diedarkan benih jagung transgenik ini terkendala karena reorganisasi Kementan.

 

Herman mengungkapkan, benih jagung trasngenik tahan herbisida berbahan aktif glifosat ini menjadi peluang petani meningkatkan produktivitas hasil tanaman karena benih jagung yang beredar di pasar baik komposit maupun hibrida tidak tahan penyakit dan gulma.

 

Sementara itu untuk menyemprot obat gulma itu cukup beresiko karena tanaman jagung itu juga dapat mati akibat terpapar bahan kimia tersebut. Namun dengan penggunaan benih jagung transgenik , maka petani tidak perlu risau karena yang dipastikan mati adalah gulmanya.

 

"Manfaat lainnya ada peningkatan pendapatan petani karena pengurangan biaya tenaga kerja untuk menyiangi gulma," katanya.

 

 

Dia menjelaskan proses pengujian benih jagung herbisida untuk dikomersialkan memakan waktu cukup lama yang mana rangkaian pengujian oleh otoritas independen yang ditunjuk pemerintah (KKH) sudah dirintis sejak tahun 2.000 an. Setelah sinkronisasi kebijakan dilakukan, benih jagung transgenik ini baru dinyatakan aman pangan pada 2012, kemudian di tahun berikutnya, KKH memberi status aman pakan dan aman lingkungan pada 2015. (Ant)