Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

ENERGI BIOMASSA - LIPI-Kobe uji Kestabilan Kandidat Mikroba

Tanggal: 25 September 2016 | Sumber: Harian Kompas | Penulis:

BOGOR, KOMPAS - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia bekerja sama dengan Universitas kobe, jepang, menguji kestabilan sistem metabolisme mikroba pilihan guna menghasilkan bioetanol dari biomassa non-pati. mikroba terbaik dan sistem produksi enzimnya ditargetkan diperoleh tahun 2017.

 

Tim peneliti mencari dua macam mikroba, yaitu Actinomycetes dan khamir (yeast). "Target kami bukan sekedar publikasi di jurnal, tetapi produksi industri. Kestabilan mikroba penting untuk produksi jangka panjang," ucap Manager Proyek Innovative Bio-Production in Indonesia LIPI (iBiol) Yopi Sunarya, Rabu (24/8), di Cibinong, Jawa Barat.

 

Penelitian itu lima tahun (2014-2018) dengan dana hibah skema Japan Science and Technology Agency-Japan International Coorperation Agency Satreps Project sebesar Rp 30 miliar untuk dikelola LIPI dan Rp 20 miliar okleh Universitas Kobe. LIPI tahun ini mengalokasikan dana pendamping Rp 700 juta.

 

Bioetanol dapat untuk alternatif bahan bakar kendaraan dan pengganti gas untuk memasak. Produksi bioetano, kata Yopi, lebih mudah jika mengunakan bahan baku glukosa (gula dalam bentuk monosakarida), tetapu mahal. Karena itu, tim memilih bahan baku yang masih berupa polisakarida, dari biomassa.

 

Tak bersaing pangan

 

Jika biomassa berbasis pati, misalnya dari tepung ubi kayu, pengembangan berkompetisi dengan pangan. Maka, tim memilih biomassa non-pati berbasis selulosa yang jadi limbah. Bahan baku potensial, antara lain, limbah tandan kosong sawit dari industri sawit dan bagase (ampas tebu) dari penggilingan tebu.

 

Untuk menghasilkan bioetanol dari biomassa selulosa, tim peneliti merekayasa materi genetik mikroba agar menghasilkan enzim unggul untuk hidrolisis selulosa (memecah polisakarida menjadi monosakarida) dan fermentasi gula monosakarida menjadi bioetanol. Dari mikroba Actinomycetes, peneliti mencari tiga macam dengan peran unggulan.

 

Kandidat Actinomycetes penghasil enzim dan inang sudah diperoleh , berasal dari Indonesia. Kestabilan keduanya diuji berulang-ulang di laboratorium Innovative BioProduction Kobe (iBioK) Universitas Kobe. Tim masih mencari Actinomycetes penghasil promotor bagus.

 

Tujuan besar tim peneliti LIPI tidak haya memproduksi bioetanol, tetapi juga menguasai sitem produksi enzim keseluruhan. Penguasaan kemampuan itu bisa untuk berbagai kebutuhan. Contohnya, enzim pektinase membantu degradasi material tumbuhan guna mempercepat ekstraksi sari buah di industri. "Hampir seluruh enzim industri di Indonesia impor," ujarnya.

 

Kini, LIPI berencana merintis percontohan biokilang industri enzim di Indonesia. Proyek kerja sama dengan Jepang memberi kesempatan transfer teknologinya. Namun, itu juga butuh kesepahaman dengan industri.

 

Keberadaan pusat penyimpanan koleksi mikroba Indonesian Culture Collection (InaCC) sangat membantu proyek penelitian. Isolat mikroba yang dipakai dalam riset bisa tersimpan aman di InaCC.

 

Manajer InaCC Atit Kanti mengatakan, karena InaCC pusat koleksi mikroba berstandar internasional, pemerintah sudah berkomitmen kebutuhan operasional InaCC senantiasa terpenuhi. Koleksi mikroba dapat bertahan sekitar 30 tahun di sana.

 

Sejauh ini, akses publik pada mikroba riset Proyek iBiol belum dibuka, melindung hak kekayaan intelektual. (JOG/C06)