Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Dua regulasi ini hambat komersialisasi produk pangan bioteknologi

Tanggal: 30 January 2018 | Sumber: kabar bisnis | Penulis:

JAKARTA, kabarbisnis.com: Keinginan petani menggunakan varietas tanaman bioteknologi Produk Rekayasa Genetik (PRG)  belum juga dapat direalisasikan. Pasalnya, pedoman pelepasan varietas tanaman bioteknologi  PRG dan pedoman pengawasan paska pelepasan varietas belum juga dirilis pemerintah.

 

Anggota Komisi Keamanan Hayati PRG Prof Bambang Purwantara mengatakan dua produk RPG yakni jagung tahan serangan hama gulma dan tebu toleransi kekeringan sudah memperoleh sertifikasi  lengkap yakni lolos pengujian dari keamanan pangan, keamanan lingkungan hidup dan keamanan pakan. Untuk benih jagung transgenik yang diujikan RR NK 603 produksi Monsanto.

 

Sementara varietas benih tebu tahan kekeringan NXI 4T merupakan kolaborasi PT Perkebunan Nasional XI , Universitas Jember dan PT Miwon . Benih tebu tahan kekerpingan sudah lolos uji pakan. Ini kado awal tahun baru dari produk anak bangsa. Malah proses pelepasan varietasnya sudah mendahului uji memperoleh sertifikasi pakan,”ujar Bambang menjawab kabarbisnis.com  di Jakarta, kemarin.

 

Secara prosedur apabila produk transgenik telah dinyatakan lolos pengujian dan dikeluarkan sertifikasi aman dari ketiga unsur tersebut maka khususnya benih transgenik tebu toleran terhadap kekeringan seharusnya dapat dikomersialisasikan. “Sekarang sudah kita selesaikan. Tinggal PTPN 11 mau diapakan,” ujarnya.

 

Hanya saja, aku Bambang dua benih transgenik ini  belum dapat dibudidayakan para petani karena terdapat dua peraturan yang dianggap dunia usaha masih bias . Dua aturan itu mengenai pedoman pengawasan setelah pelepasan paska pelepasan varietas yang prosesnya dinilai pembahasannya terkatung katung mengingat sudah berjalan lebih dari dua tahun. Regulasi yang dimaksud adalah Peraturan Pemerintah  (PP) No. 21 tahun 2005 tentang Keamanan Hayati  Produk Rekayasa Genetik.

 

Menurut Bambang pedoman dari PP ini dimaksudkan untuk melakukan evaluasi dan monitoring kemungkinan timbulnya resiko yang merugikan sebagai akibat pemanfaatan produk rekayasa genetik dan mencegah timbulnya resiko yang berpotensi membahayakan manusia dan lingkungannya.Komisi Keamanan Hayati PRG akan merekomendasikan kepada produsen menarik produk tersebut dari pasar.

 

Kemudian aturan selanjutnya berkaitan perubahan Permentan No 61 tahun 2011 mengenai Penilaian, Pelepasan varietas tanaman bioteknologi rekayasa genetika yang membubarkan Balai Benih Nasional (BBN). Namun dia belum mengetahui  institusi mana yang menggantikan fungsinya, apakah di bawahi Badan Biogen Balitbang Kementan atau dilimpahkan ke masing masing direktorat .

 

Desmarwansyah, Director Biotech dan Seed CropLife Indonesia yang mewadahi  asosiasi delapan industri perbenihan dan agrokimia  mengatakan pemerintah telah merevisi Permentan No 61 tahun 2011 menjadi Permentan No 40 tahun 2017 tentang Pelepasan Varietas Produk Pangan dan  Perkebunan yang ditandantangi 28 November 2017. Menurut Desmarwansayah deregulasi yang dibuat justru hanya memuat varietas produk pangan non PRG. “Tidak seharusnya ada aturan baru biotek varietas.Bisa mengikuti Permetan baru ini,” kata dia.

 

Dalam pemikirannya  suatu produk bioteknologi setelah mendapatkan sertifikat keamanan pangan, lingkungan dan pakan berarti sama amannya dengan produk konvensional. Tafsirannya produk rekayasa genetik dapat disamakan dengan produk pangan konvensional. Dunia industri, aku Desmarwansyah mengaku tengah gamang karena sejauh ini belum ada informasi resmi dari otoritas Kementerian Pertanian . “Kami akan coba mengajukan ke direktorat teknis. Tapi kalau ditolak berarti ada aturan baru dan kita ingin pemerintah juga menyusunnya,” terang Desmawansyah.

 

Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi menilai pembubaran Balai Benih Nasional dimaksudkan untuk menyederhanakan proses pelepasan varietas produk pangan. Bukan malah diambil institusi lain tapi tidak menjalankan fungsinya dengan baik. “Penghapusan dulu (Balai Benih Nasional red)  itu bagian debirokratisasi. Seharusnya lebih mudah dan cepat dilakukan (proses pelepasan varietas ). Soalnya kita butuh benih bioteknologi,” kata Bayu.

 

Laporan International Service for Acquisition Agri biotech Application (ISAAA)  menyebutkan adopsi tanaman biotek secara global tumbuh 110 kali lipat dalam kurun waktu 21 tahun terakhir. Pada tahun 1996 tanaman biotek yang tadinya ditanam dari 1,7 juta hektare (ha) menjadi  185,1 juta ha pada 2016.kbc11