Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Dua Produk Lolos Uji Keamanan Lingkungan

Tanggal: 5 September 2015 | Sumber: Harian Kompas | Penulis:

JAKARTA, KOMPAS — Varietas transgenik dua jenis tanaman, yakni jagung dan tebu, lolos pengujian keamanan lingkungan oleh Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetika. Sesuai ketentuan, kedua produk juga harus lolos uji keamanan pangan manusia dan pakan ternak.

 

"Untuk jagung, tinggal tahap pelepasan varietas. Kontak Tani Nelayan Andalan sudah menanti produk untuk diaplikasikan," kata anggota Komisi Keamanan Hayati untuk Produk Rekayasa Genetika, Bambang Purwantara, Jumat (4/9), seusai seminar "Tanaman Biotek: Dampak Global Sosio-Ekonomi dan Lingkungan Hidup 1996-2013". Seminar diadakan Indonesian Biotechnology Information Center dengan peneliti PG Economics dari Inggris, Graham Brookes, sebagai pembicara.

 

Tanaman transgenik dihasilkan dari proses penyisipan gen jenis tanaman atau makhluk hidup lain sehingga menghasilkan varietas dengan susunan genetik baru. Langkah itu diliputi pro dan kontra di masyarakat meskipun ada tahap kehati-hatian.

 

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2005 tentang Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik, tanaman transgenik harus memenuhi keamanan lingkungan, pangan, dan pakan. Endah Ambarwati, Kepala Seksi Pelepasan dan Peredaran Produk Rekayasa Genetik dan Jenis Asing Subdirektorat Keamanan Hayati Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), mengatakan, pengawasan keamanan pangan merupakan tanggung jawab Badan Pengawas Obat dan Makanan, keamanan lingkungan KLHK, dan keamanan pakan Kementerian Pertanian.

 

Jagung transgenik yang dapat izin keamanan lingkungan adalah jagung PRG Toleran Herbisida Glifosat Event NK603 produksi Monsanto, sedangkan tanaman tebu yang lolos uji keamanan lingkungan adalah tebu PRG toleran kekeringan. Menurut Endah, jagung itu sudah melengkapi tiga macam izin keamanan tinggal menunggu proses lanjutan di Kementerian Pertanian, sedangkan tebu transgenik PT Perkebunan Nusantara XI di Jawa Timur belum uji keamanan pakan.

 

Brookes menuturkan, ia sudah mempelajari tanaman transgenik selama 18 tahun. Pertanian dengan benih transgenik memang butuh biaya mengakses teknologi, tetapi menghasilkan keuntungan berlipat.

 

Di Filipina, 28 persen tanaman jagung memakai benih transgenik resisten serangga, 31 persen benih toleran herbisida. Selama 1996-2013, perkebunan dengan benih resisten serangga menghasilkan tambahan pendapatan 347,4 miliar dollar AS (sekitar Rp 4.168 triliun).

 

Namun, Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia Dwi Andreas Santosa mempertanyakan produktivitas tanaman menggunakan benih transgenik. "Produktivitas jagung di Filipina yang mayoritas pakai benih transgenik hanya 2,98 metrik ton per hektar pada 2014, di Indonesia 4,80 metrik ton per hektar," ujarnya.

 

Andreas meminta pemerintah tak hanya berhati-hati dari sisi keamanan, tetapi juga permainan dagang. Saat ini, penguasaan benih hortikultura oleh perusahaan asing sudah 78 persen di Indonesia. Itu akan lebih tinggi jika pakai benih transgenik. (JOG)