Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Dorong Kolaborasi Riset Bioteknologi

Tanggal: 7 April 2018 | Sumber: Koran Harian Kompas | Penulis:

DEPOK, KOMPAS — Penelitian di perguruan tinggi dan pengembangan produk farmasi pada industri kerap tidak sinkron. Untuk itu, riset kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri perlu terus dilakukan untuk mendorong hilirisasi riset.

 

Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Maura Linda Sitanggang menyampaikan hal itu di sela-sela peresmian Pusat Penelitian Bioteknologi hasil kolaborasi antara Universitas Indonesia (UI) dan Daewoong Pharmaceutical Co Ltd, Korea, di Kampus UI, Depok, Jawa Barat, Jumat (6/4/2018).

 

Linda menyampaikan, selama ini riset yang berorientasi produk masih rendah, sementara di industri pengembangan produk yang berbasis riset juga masih kurang. Oleh karena itu, kehadiran laboratorium UI-Daewoong diharapkan bisa menjadi jembatan di antara keduanya dalam penelitian.

 

”Riset bioteknologi sudah banyak dilakukan, tapi mungkin hilirisasinya yang masih perlu didorong. Riset diarahkan untuk menghasilkan produk dan mendapat izin edar. Jangan terbatas pada riset saja,” ujarnya.

 

Pemerintah telah memiliki rencana aksi pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan yang tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 17 Tahun 2017. Produk bioteknologi merupakan salah satu pilar yang dikembangkan selain vaksin, produk herbal, dan bahan kimia obat. Tanpa riset kolaboratif keberlanjutan, semua pilar itu akan sulit diwujudkan.

 

Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Dimyati menyebutkan, Indonesia belum memiliki banyak ahli bioteknologi. Dari sisi fasilitas pun demikian. Keberadaan laboratorium bioteknologi UI-Daewoong bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas dalam bidang bioteknologi. Terlebih kerja sama peneliti Indonesia dengan luar negeri sedang menurun saat ini.

 

Dimyati juga berharap hasil riset bioteknologi hasil kolaborasi juga tidak hanya berhenti pada publikasi ilmiah di jurnal internasional. ”Publikasi hanya awal. Kemanfaatan dari hasil riset akan lebih besar kalau menjadi produk. Ada royalti bagi peneliti dan institusinya juga,” lanjutnya.

 

Laboratorium yang terletak di Gedung Integrated Learning & Research Center (ILRC) UI Kampus Depok itu dilengkapi dengan sarana elektroforesis kapiler, freezer thermoscientific, dan molecular devices. Laboratorium ini akan beroperasi dengan konsep smart system, dengan kontrol semua alat dan sumber energi dilakukan secara otomatis.

 

Rektor UI Prof Muhammad Anis menuturkan, keberadaan laboratorium bioteknologi hasil kolaborasi dengan Daewoong ini akan semakin mempertegas komitmen UI untuk menjadi universitas riset. Publikasi ilmiah di jurnal internasional diharapkan meningkat.

 

Perkembangan teknologi berjalan lebih pesat dibandingkan pengembangan ilmu pengetahuan. UI yang memiliki basis pengetahuan perlu berkolaborasi dengan industri yang mempunyai teknologi sehingga bisa menghasilkan sinergi yang bagus dan bermanfaat untuk masyarakat.

 

Presiden dan CEO Daewoong Pharmaceutical Co Ltd Jeon Seng Ho mengatakan, laboratorium di UI akan difungsikan untuk riset yang berorientasi pada pengembangan produk farmasi. Dalam tiga tahun ke depan, laboratorium bioteknologi UI-Daewoong diharapkan sudah dapat menghasilkan produk epidermal growth factor (EGF) yang bisa dipakai untuk, salah satunya, terapi luka pada kaki diabetes.

 

Dalam jangka panjang, sebagai industri yang kuat di bidang sel punca, Daewoong akan mengembangkan riset sel punca dan monoklonal antibodi (mAb) untuk terapi kanker di laboratorium UI. Harapannya, masyarakat bisa memiliki lebih banyak pilihan terapi untuk penyakit yang dideritanya.

 

Jeon menambahkan, kolaborasi serupa akan dilakukan secara bertahap dengan sejumlah perguruan tinggi lain. Hal ini sudah menjadi rencana jangka panjang 5-10 tahun ke depan.