Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

DIVERSIFIKASI PANGAN - Ubi Diabaikan, Gizi Terancam

Tanggal: 6 September 2016 | Sumber: Harian Kompas | Penulis:

JAKARTA, KOMPAS - Perhatian pemerintah tersita pada beras untuk memenuhi kebutuhan makanan pokok dan mengabaikan diversifikasi pangan, termasuk umbi-umbian. Padahal, beberapa jenis umbi, termasuk ubi ungu, unggul untuk pemenuhan gizi dan memelihara kesehatan dibandingkan beras.

 

"Kebijakan raskin (sekarang beras untuk keluarga sejahtera atau rastra), bentrok dengan kebijakan diversifikasi pangan," kata Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor Ali Khomsan, saat bertemu ahli "Khasiat Ubi Ungu sebagai Antioksidan dan Kesehatan Pencernaan", di Jakarta, Senin (5/9). Jika pemerintah tidak menyediakan rastra, warga miskin tak mampu beli beras putih dan bisa beralih ke umbi-umbian.

 

Pengabaian diversifikasi terlihat dari perubahan pola konsumsi pangan pokok Indonesia. Pada 1954, konsumsi beras 53,9 persen, ubi kayu 22,26 persen, jagung 18,99 persen, dan kentang 4,99 persen. Pada 2010, pangsa pasar nonberas hampir tak ada.

 

Padahal, indeks glikemik beras tinggi, nilai di atas 70, dan memicu kenaikan kadar gula dalam darah serta rentan menimbulkan diabetes melitus. Itu jadi pemicu Indonesia menerima beban ganda, yakni tingginya kasus gizi kurang dan tubuh pendek (stunting) sekaligus kasus obesitas.

 

Ubi ungu

 

Karena itu, penganekaragaman pangan jadi solusi mengatasi masalah gizi di Indonesia, termasuk memanfaatkan ubi jalar ungu. Nilai indeks glikemik ubi ungu 40 atau rendah.

 

Keungguan lain, senyawa polifenol pemberi warna pada ubi ungu, antosianin, punya manfaat anti oksidan atau kemampuan tinggi menangkap radikal bebas. "Asap rokok, knalpot, dan industri menghasilkan radikal bebas yang mempercepat penuaan dan menimbulkan penyakit degeneratif," ujarnya.

 

Selain itu, ubi ungu memiliki potensi anti kanker. Ubi itu juga mengandung beta karoten 9.900 mikrogram per 100 gram, kandungan yang tak ada di beras. Beta karoten bermanfaat untuk menjaga kesehatan mata.

 

Agar warga terbiasa mengonsumsi ubi ungu, pembisaan sejak bayi diperlukan. Caranya, ubi ungu jadi makanan pendamping air susu ibu. Penerapan beragam teknologi pengolahan ubi ungu dan umbi-umbian lain jadi produk olahan pangan bernilai tambah, berkontribusi pada sosialisasi diversifikasi pangan.

 

Menurut Guru Besar Rekayasa Proses Pangan IPB Purwiyatno Hariyadi, salah satu teknologi pendorong nilai tambah ubi ungu ialah pengeringan drum. Hasilnya, tepung kering jadi bahan baku olahan. Jadi, tepung ubi ungu awet, tetapu menekan penurunan mutu akibat pengolahan, keran diolah pada suhu tinggi dalam waktu singkat.

 

Usaha mikro, kecil, dan menengah bisa juga memakai teknologi sederhana, yakni penjemuran dalam rumah kaca agar ubi ungi kering, awet, dan higienis. (JOG)