Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Di antara Kepunahan dan Bioteknologi

Tanggal: 12 June 2019 | Sumber: Koran Kompas | Penulis: BRIGITTA ISWORO LAKSMI

Sebanyak 571 spesies tumbuhan punah sejak tahun 1750. Tingkat kepunahan ini 500 kali lebih besar dari kepunahan di era pra-Revolusi Industri. Lebih dari dua kali lipat jumlah kepunahan unggas, mamalia, dan amfibi di alam secara keseluruhan. Angka ini empat kali lipat dari data tumbuhan tercancam punah dalam daftar badan konservasi alam internasional.

 

"Tumbuhan adalah landasan kehidupan," ujar satu anggota tim penelitian tersebut, Eimear Nic Lughadha, di Royal Botanic  Gardens, Kew, London, Senin (10/6/2019), seperti dikutip The Guardian. Laporan penelitian itu dimuat di majalah ilmiah Nature Ecology and Evolution. "Mereka menyediakan oksigen untuk bernapas, makanan untuk kita, juga tulang punggung ekosistem. Kepunahan tumbuhan adalah kabar buruk bagi semua spesies," katanya.

 

Kepunahan terbanyak ditemukan di Hawaii, 79 spesies, disusul Afrika Selatan (37), menyusul Australia, Brasil, India, dan Madagaskar. Kemungkinan ada wilayah lain dengan angka kepunahan besar yang tak terdeteksi karena tidak semua wilayah terdapat penelitian yang sama.

 

Rosichon Ubaidillah, anggota Panel Ahli Multidisiplin dari The Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services PBB Perwakilan Asia Pasifik, mengatakan, 25 tahun terakhir, sekitar 13 persen hutan di Asia Tenggara hilang dan 25 spesies endemik terancam punah (Kompas, 23/5/2018).

 

Pakar Kehati, Endang Sukara, berulang kali mengatakan, tumbuhan memiliki manfaat lebih banyak lagi. Ekstrak kandungan kimianya dapat dijadikan bahan dasar pengobatan, keperluan kosmetik, atau proses pembuatan makanan.

 

Persoalannya, kata Maria Vorontsova, anggota tim lainnya, "Jumlah spesies punah bisa jauh lebih besar dari yang kita ketahui." Pasti ada spesies yang sudah punah sebelum ditemukan. Setiap hari, 2.000 spesies tumbuhan ditemukan. Saat ini banyak spesies kondisinya "setengah mati" (living dead) karena tidak bisa bereproduksi. Jenis seks tinggal satu atau tak ada lagi hewan membantu penyebaran biji/benih.

 

Proses kepunahan di era sekarang disebut sebagai kepunahan massal keenam (sixth mass extinction), atau antroposen (anthropocene). Dari laporan Kehati bulan Mei lalu, 1 juta spesies tumbuhan dan hewan dinyatakan berisiko punah di akhir abad ini. Padahal, 26 tahun lalu, telah lahir Konvensi Keanekaragaman Hayati yang mengakui bahwa keanekaragaman hayati adalah "kepentingan bersama". Indonesia pun telah meratifikasi.

 

Muncul jawaban terhadap kepunahan, yaitu bioteknologi atau dengan pembuahan in vitro. Jika senantiasa ada jalan keluar secara teknis, muncul kekhawatiran kita tak akan lagi melakukan konservasi secara intens demi keberlanjutan kehidupan. Pertanyaan dengan "tanda tanya" besar muncul: Benarkah teknologi mampu menggantikan jaringan kehidupan (yang hilang)? (BRIGITTA ISWORO LAKSMI)