Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Dahsyat ! Budidaya Tanaman Biotek Capai Ratusan Juta Hektar

Tanggal: 17 September 2019 | Sumber: Agrina | Penulis: Julian

TABLOIDSINARTANI.COM, Depok---Setidaknya 70 negara telah mengadopsi tanaman biotek melalui penanaman dan impor bahan pangan selama tahun 2018. Dari jumlah itu, 26 negara (21 negara berkembang dan 5 negara industri) menanam 191,7 juta hektar (ha) tanaman biotek meningkat 1 persen atau bertambah 1,9 juta ha dari tahun 2017.

 

Demikian diungkapkan Direktur Global Knowladge Center on Crop Biotechnology International Service for the Acquisition of Agri-biotech Applications (ISAAA), Dr. Rhodora Romero Aldemita saat Seminar Youth Biotech Outreach di Kampus UI, Depok, beberapa waktu lalu.

 

Namun menurutnya, secara akumulatif luas pertanaman biotek di seluruh dunia sejak tahun 1996 mencapai 2,5 miliar ha atau meningkat hampir 113 kali lipat. “Ini menunjukkan bahwa bioteknologi adalah teknologi tanaman yang paling cepat diadopsi di dunia,” ujarnya.

 

Mengutip data ISAAA, Aldemita menyebutkan, adopsi penanaman tanaman biotek di negara berkembang sejak tahun 1996-2018 mencapai 103,1 juta ha (54 persen). Sedangkan adopsi di negara industri seluas 88,6 juta ha (46 persen).

 

Negara-negara Amerika Latin merupakan yang terbanyak mengadopsi tanaman biotek, mencapai 10 negara. Negara Asia Pasific 9 negara, Amerika Utara 2 negara, Eropa 2 negara dan Afrika 3 negara. Lima negara terbesar yang mengadopsi tanaman biotek adalah AS seluas 75 juta ha, Brazil 51,3 juta ha, Argentina 23,9 juta ha, Kanada 12,7 juta ha dan India 11,6 juta ha.

 

“Tingkat adopsi tanaman utama di lima negara itu mendekati 100%. Hal ini menunjukkan petani lebih menyukai teknologi tanaman ini dari pada varietas konvensional,” katanya.

 

Kedelai biotek mencapai adopsi tertinggi di seluruh dunia, meliputi 50 persen dari area tanaman biotek global. Di Asia, Indonesia untuk pertama kalinya menanam tebu toleran kekeringan yang dikembangkan melalui kemitraan publik (Universitas Jember) dan swasta (Ajinomoto Ltd.).

 

Penuhi Tantangan Global

 

Menurut Aldemita, hal tersebut juga mengindikasikan bahwa tanaman biotek terus membantu memenuhi tantangan global seperti kelaparan, malnutrisi, dan perubahan iklim.  Pada tahun 2018, seperti dilaporkan dalam State of Food Security and Nutrition in the World oleh PBB, bahwa kelaparan meningkat dari tahun ke tahun selama tiga tahun berturut-turut. Bahkan kondisinya, pada tingkat yang setara dengan angka untuk satu dekade yang lalu.

 

Global Report on Food Crisis 2017 mengungkapkan, kelaparan dan malnutrisi terus meningkat, dengan sekitar 108 juta orang di 48 negara berisiko atau dalam kerawanan pangan yang parah. “Tanaman biotek, dikembangkan dengan sifat yang ditingkatkan antara lain seperti peningkatan hasil, lebih tahan terhadap hama, peningkatan nutrisi,” katanya.

 

Karena itu menurutnya, tanaman biotek tidak dapat disangkal diperlukan untuk mengatasi tantangan-tantangan global yang mempengaruhi kehidupan banyak orang secara global. “Teknologi rekayasa genetik telah berkontribusi pada ketahanan pangan dalam banyak aspek,” tegas Aldemita.