Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

Ubah ke bahasa: English

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

CORNELL ALLIANCE FOR SCIENCE LUNCURKAN PERCAKAPAN GLOBAL UNTUK AKHIRI KELAPARAN

Tanggal : 25 November 2015

Cornell Alliance for Science berkumpul di Markas Besar PBB di New York, pada 17 November untuk memulai percakapan global guna mengakhiri kelaparan dunia. 25 aliansi yang baru lulus Global Leadership Fellows bergabung dengan diplomat, wartawan, akademisi, dan asosiasi sains, berbagi kisah-kisah pribadi yang mendorong mereka untuk menyetujui alat-alat teknologi dalam upaya untuk keamanan pangan. Fellows, yang mewakili 10 negara, baru saja menyelesaikan kursus intensif selama 12 minggu tentang ilmu pengetahuan, komunikasi, dan akar rumput pengorganisasian di Universitas Cornell. Mereka adalah kelompok pertama dalam program perintis dibentuk oleh ahli biologi tanaman Cornell Dr. Sarah Evanega dan didanai oleh Yayasan Bill & Melinda Gates.

 

"Kita harus menggunakan alat-alat ilmu pengetahuan untuk mengakhiri perbedaan yang kita lihat di seluruh dunia," ujar Evanega pada 100 orang yang berkumpul di gala. "Saya ingin bekerja untuk memastikan bahwa setiap orang tua memiliki kesempatan untuk memberikan makanan bergizi yang hangat di depan anak-anak mereka tiga kali sehari, dan bahwa setiap ibu dapat baik memberi makan anak-anaknya dan mengirim mereka ke sekolah."

 

Fellows, yang kembali ke negara mereka pekan ini, akan mengejar pelaksanaan kampanye dan strategi komunikasi yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang peran bioteknologi dan ilmu pengetahuan dalam mengakhiri kelaparan.

 

Di antara mereka yang berbagi cerita pribadi mereka adalah Fr. Emmanuel C. Alparce dari Filipina, yang mengatakan bahwa jutaan orang sebangsanya kelaparan. "Saya di sini karena saya percaya biotek akan meningkatkan kehidupan masyarakat saya, terutama para petani," ujarnya.

 

Nassib Mugwanya berbicara tentang bagaimana petani di negara asalnya dari Uganda menderita kelaparan dan kemunduran ekonomi karena virus tanaman melanda tanaman penting yaitu singkong. Para ilmuwan telah merekayasa genetika singkong untuk melawan virus ini, tetapi aktivis politik telah menghalangi perkenalnya. "Meskipun solusi yang tepat ada di depan kami, hak ada dalam jangkauan kami, iklim legislatif belum tepat bagi petani untuk memiliki tanaman ini di ladang mereka," ujarnya.

 

 

Baca beritanya di situs Cornell Alliance for Science http://allianceforscience.cornell.edu/blog/%E2%80%9C25-stories-allied-end-world-hunger%E2%80%9D-event-takes-place-un. Untuk lebih lengkap, hubungi Dr. Sarah Davidson Evanega snd2@cornell.edu