Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Cerdas Bertani dengan Aplikasi

Tanggal: 4 November 2019 | Sumber: Kompas.id | Penulis: TATANG MULYANA SINAGA

Anomali cuaca menjadi “hantu” bagi petani. Gagal tanam dan gagal panen senantiasa membayangi. Lewat aplikasi teknologi, informasi cuaca pun dalam genggaman sehingga kerugian bertani karena faktor cuaca dapat dihindari.

 

Cuaca yang tak menentu kerap menyulitkan petani dalam memulai masa tanam. Petani tidak bisa lagi mengikuti jadwal tanam di tahun sebelumnya. Jika musim hujan bergeser, petani mau tidak mau harus menyesuaikannya.

 

Apalagi jika sawah tidak dilengkapi dengan saluran irigasi memadai sehingga ketersediaan air sangat terbatas. Dalam kondisi itu, petani “berjudi” untuk tetap menanam. Karena perkiraan musim hujan meleset, tanaman padi mati dan petani pun merugi.

 

Keadaan itu mendorong dosen Program Studi Meteorologi Institut Teknologi Bandung (ITB) Armi Susandi mengembangkan sistem informasi cuaca bagi petani. “Tujuannya agar petani mengetahui pola cuaca sebagai pertimbangan untuk menentukan waktu menanam, memupuk, memanen, serta mengantipasi potensi banjir dan kemarau panjang,” ujarnya di Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (16/10/2019).

 

Sejak tahun 2008, Armi membuat system smart climate model (SCM) interval bulanan. Setahun berselang, sistem itu digunakan untuk menentukan masa tanam petani padi di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

 

Penerapan SCM untuk mengetahui waktu terbaik memulai musim tanam berdasarkan ketersediaan air. Pada tahun 2014, sistem itu dikembangkan menjadi kalender tanam padi berbasis website.

 

Tiga tahun kemudian, sistem tersebut dibuat lebih praktis dengan aplikasi SICA (Sistem Informasi Cerdas Agribisnis) berbasis website dan android. Berbagai informasi, seperti prediksi cuaca, iklim, indeks kerentanan, kalender tanam, dan info pasar, pun dapat diakses melalui telepon pintar.

 

Informasi yang disajikan di SICA diperoleh dengan mengakses data dari stasiun curah hujan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Dinas Pertanian, dan Dinas Kehutanan di setiap daerah. Data direkam minimal dalam 10 tahun ke belakang dan prediksi cuaca untuk lima tahun ke depan diolah dalam sistem tersebut.

 

“Curah hujan di setiap daerah tidak sama. Jadi, data harus dikumpulkan per daerah agar akurat,” ujarnya.

 

Setelah diolah, data itu akan tersaji dalam beberapa fitur, seperti prediksi cuaca, iklim, dan indeks kerentanan. Kombinasi data dirangkum menjadi kalender tanam untuk menentukan jadwal tanam hingga panen.

 

Fitur prediksi cuaca berisi perkiraan curah hujan, kecepatan dan arah angin, suhu, serta tekanan dan kelembapan setiap tiga jam selama tiga hari ke depan. Sementara dalam prediksi iklim terdapat perkiraan curah hujan per dasarian (10 hari) di wilayah masing-masing.

 

Informasi potensi bencana dan kekeringan tertera dalam fitur indeks kerentanan. “Jika pola hujan sudah diketahui, petani mudah menentukan waktu menanam. Hal-hal yang dapat memicu gagal panen, seperti banjir dan kekeringan panjang, juga dapat diantisipasi,” ujarnya.

 

 

Mudah Dipahami

 

Menurut Armi, informasi yang dirangkum dalam aplikasi SICA mudah dipahami. Hal itu disebabkan sistem telah merumuskan data untuk disajikan dalam peta, diagram, dan tabel.

 

Fitur prediksi cuaca, misalnya, data curah hujan ditampilkan dengan peta berwarna. Warna ungu dan biru berarti curah hujan rendah, hijau, dan kuning curah hujan normal, serta oranye dan merah curah hujan tinggi.

 

Prediksi iklim curah hujan per dasarian ditampilkan dalam diagram. Setiap bulan terdiri atas tiga diagram batang. Dasarian pertama berwarna biru, dasarian kedua (hijau), dan dasarian ketiga (kuning).

 

Armi mengatakan, petani cukup memerhatikan prediksi curah hujan per dasarian setiap bulan. Untuk memulai musim tanam, disarankan curah hujan minimal 50 milimeter per dasarian. Petani juga wajib melihat prediksi curah hujan di bulan berikutnya karena padi membutuhkan banyak air, setidaknya hingga umur 60 hari.

 

“Jangan sampai di bulan berikutnya justru curah hujan tidak mencukupi. Jadi, polanya harus diperhatikan hingga dua, tiga bulan ke depan,” ujarnya.

 

Sejak tahun 2018, SICA sudah menyediakan fitur informasi pasar. Fitur tersebut menunjukkan lokasi toko tani dan toko beras. Fungsinya, agar petani mengetahui tempat untuk membeli peralatan pertanian dan menjual hasil panennya.

 

Mencegah kerugian

 

Selain di Indramayu, SICA juga sudah diterapkan secara daring di Kabupaten Ende dan Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, serta Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Armi memaparkan, sistem itu dapat mencegah kerugian petani akibat gagal tanam dan gagal panen di daerah tersebut.

 

Armi mengatakan, sejumlah petani mengaku bisa 3-5 kali gagal tanam akibat tidak memahami pola curah hujan. Biaya sekali tanam sekitar Rp 750.000 per hektar. Biaya itu belum termasuk perawatan karena padi gagal tumbuh akibat kekurangan air.

 

Dengan demikian, petani berpotensi rugi Rp 2,25 juta – Rp 3,75 juta per musim tanam. Kerugian itu akan dibebankan pada penjualan hasil panen sehingga keuntungan petani tidak maksimal. “Dengan SICA, potensi kerugian itu dapat dicegah. Petani tidak lagi untung-untungan, melainkan sudah terjadwal karena mengetahui pola cuaca,” ujarnya.

 

Armi berharap, SICA diterapkan di seluruh Indonesia. Pemerintah daerah atau kelompok petani dapat mengajukan kerja sama untuk menggunakan sistem tersebut. “Kami siap membangun sistemnya. Untuk pembiayaan, sifatnya semi komersial karena tetap butuh biaya, seperti listrik untuk operasional servernya,” ujarnya.

 

Manfaat SICA turut dirasakan oleh Abas Kartan (53), petani di Desa Karanglayung, Indramayu. Bersama puluhan petani lainnya, dia sudah menggunakan sistem itu sejak 2016.

 

“Kalender tanam di SICA sangat membantu. Petani tidak lagi menebak-nebak musim tanam karena sudah tersedia jadwalnnya sesuai ketersediaan air berdasarkan curah hujan,” ujarnya.

 

Pada 2015, Abas mengalami gagal panen. Cuaca tak menentu membuat padi di atas satu hektar sawah miliknya puso. Dia merugi sekitar Rp 8 juta. Pengalaman pahit itu menyadarkan Abas mengenai pentingnya penggunaan teknologi informasi cuaca.

 

Pola cuaca berubah, cara bertani pun harus berubah. Penggunaan aplikasi teknologi menjadi solusi agar anomali cuaca tidak berujung rugi bagi petani.