Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Brief 54: Status Global Komersialisasi Tanaman Biotek/RG: 2018 Tanaman Biotek Menjawab Tantangan Peningkatan Populasi dan Perubahan Iklim

Tanggal : 10 September 2019 | Sumber : ISAAA

Tujuh Puluh Negara Mengadopsi Tanaman Biotek untuk Memberikan Solusi bagi Kelaparan, Malnutrisi, dan Perubahan Iklim

 

Depok (10 September 2019) – Tujuhpuluh negara telah mengadopsi tanaman biotek melalui penanaman dan impor bahan pangan pada 2018. Sekarang memasuki tahun ke-23 adopsi tanaman biotek, menurut Global Status of Commercialized Biotech/GM Crops in 2018 (ISAAA Brief 54) yang dirilis oleh International Service for the Acquisition of Agri-biotech Applications (ISAAA). Dua puluh enam negara (21 negara berkembang dan 5 negara industri) menanam 191,7 juta hektar tanaman biotek, atau bertambah 1,9 juta hektar pada tahun 2017. Hal ini mengindikasikan bahwa tanaman ini terus membantu memenuhi tantangan global seperti kelaparan, malnutrisi, dan perubahan iklim. 

 

Pada tahun 2018, seperti dilaporkan dalam State of Food Security and Nutrition in the World oleh PBB, bahwa kelaparan meningkat dari tahun ke tahun selama tiga tahun berturut-turut, dan pada tingkat yang setara dengan angka untuk satu dekade yang lalu. Lebih lanjut, Global Report on Food Crisis 2017  mengungkapkan bahwa kelaparan dan malnutrisi terus meningkat, dengan sekitar 108 juta orang di 48 negara berisiko atau dalam karawanan pangan yang parah. Tanaman biotek, dikembangkan dengan sifat yang ditingkatkan antara lain seperti peningkatan hasil, lebih tahan terhadap hama, peningkatan nutrisi. Tidak dapat disangkal, hal ini diperlukan untuk mengatasi tantangan-tantangan global yang mempengaruhi kehidupan banyak orang secara global.

 

“Teknologi rekayasa genetik (RG) telah berkontribusi pada ketahanan pangan dalam banyak aspek. Dengan meningkatkan hasil dan mengurangi kerugian, tanaman ini berkontribusi pada ketersediaan pangan untuk lebih banyak keluarga. Dengan memungkinkan petani untuk meningkatkan proses mereka dan bergabung dengan rantai pasokan modern, hal ini meningkatkan akses fisik terhadap pangan. Melalui standar ketat tentang keamanan pangan, tanaman biotek berkontribusi pada penyediaan pangan yang lebih baik,” ujar Dr. Paul S. Teng, Ketua Dewan ISAAA. “Meskipun bioteknologi pertanian bukan satu-satunya kunci dalam meningkatkan ketahanan pangan global, ini merupakan instrumen penting dalam tataran multi-disiplin.”

 

Lahan budidaya tanaman biotek telah meningkat hampir 113 kali lipat sejak tahun 1996, dengan luas kumulatif sekitar 2,5 miliar hektar yang menunjukkan bahwa bioteknologi adalah teknologi tanaman yang paling cepat diadopsi di dunia. Di negara-negara dengan adopsi tinggi terutama AS, Brasil, Argentina, Kanada, dan India, tingkat adopsi tanaman utama mendekati 100%, yang menunjukkan bahwa petani lebih menyukai teknologi tanaman ini daripada varietas konvensional. Dengan smakin banyaknya permintaan petani dan konsumen akan sifat keunggulan tertentu, tanaman biotek yang lebih beragam makin banyak tersedia di pasar. Beberapa tanaman biotek seperti kentang dan apel yang tidak mudah memar, tidak berubah coklat ketika diiris/dikupas, rendah kandungan akrilamida dan tahan busuk daun; tebu tahan serangga dan toleran kekeringan dan kanola dengan kandungan asam oleat tinggi mulai banyak diminati pasar.

 

Laporan ISAAA juga menyoroti temuan-temuan utama berikut:

• Lima negara teratas dengan luas tanaman biotek terbesar yang ditanam (AS, Brasil, Argentina, Kanada, dan India) secara kolektif menempati 91% area tanaman biotek global. 

• Kedelai biotek mencapai adopsi tertinggi di seluruh dunia, meliputi 50% dari area tanaman biotek global. 

• Area tanaman biotek dengan penumpukkan sifat (stacked) terus meningkat dan menempati 42% area biotek global.

• Petani di sepuluh negara Amerika Latin menanam 79,4 juta hektar tanaman biotek. 

• Sembilan negara di Asia dan Pasifik menanam 19,13 juta hektar tanaman biotek. 

• Di Asia, Indonesia menanam untuk pertama kalinya tebu toleran kekeringan yang dikembangkan melalui kemitraan publik (Universitas Jember) dan swasta (Ajinomoto Ltd.). 

• Kerajaan eSwatini (sebelumnya Swaziland) bergabung dengan Afrika Selatan dan Sudan dalam menanam tanaman biotek di Afrika, dengan memperkenalkan kapas IR. Nigeria, Ethiopia, Kenya dan Malawi memberikan persetujuan untuk penanaman kapas IR membuka Afrika untuk adopsi tanaman biotek.

• Di Eropa, Spanyol dan Portugal terus mengadopsi jagung biotek untuk mengendalikan penggerek jagung Eropa.

• Lebih banyak area yang ditanami tanaman biotek untuk kebutuhan petani dan konsumen antara lain termasuk kentang dengan sifat tidak memar, non-pencoklatan, akrilamida lebih sedikit dan tahan busuk daun; apel non-kecoklatan; terong tahan serangga; dan alfalfa lignin rendah.

• Kombinasi tanaman dan sifat baru di lahan petani termasuk tebu tahan serangga dan toleran kekeringan; kanola asam oleat tinggi dan safflower.

• Berbagai persetujuan pangan, pakan dan pengolahan antara lain untuk Golden Rice, padi Bt, kapas toleran herbisida, kapas gossypol rendah.

• Persetujuan budidaya untuk penanaman pada tahun 2019 antara lain meliputi kapas toleran herbisida generasi baru dan kedelai, kapas gossypol rendah, alfalfa lignin rendah dan, kanola omega-3, dan kacang tunggak IR.

 

Dengan adopsi tanaman biotek yang terus meningkat di seluruh dunia, para petani berada di garis depan dalam menuai banyak manfaat. "Kami muak dengan penyiangan dan penyemprotan pestisida untuk mengendalikan cacing gelang dan gulma. Ketika teknologi itu diperkenalkan, kami dengan cepat mengambilnya," ujar Frans Mallela, seorang petani dari Provinsi Limpopo, Afrika Selatan. Le Thanh Hai, salah satu pengadopsi awal jagung biotek di Provinsi Vinh Phuc, Vietnam, mengatakan bahwa jagung biotek telah membantu menghidupkan kembali pertanian jagung di provinsi mereka dan menekankan bahwa sekarang banyak petani menanam jagung biotek karena manfaatnya. Rosalie Ellasus, seorang petani dari Pangasinan, Filipina, mengatakan bahwa ia mengadopsi jagung Bt karena ia memperoleh hasil lebih banyak dengan biaya produksi lebih sedikit, dibandingkan dengan varietas jagung konvensional. “Bahkan tidak ada jejak hama mengingat kami tidak menggunakan insektisida. Selain itu, kita tidak perlu lagi mengunjungi ladang jagung setiap hari dan ini memberi kami ketenangan pikiran, ” tambah Ellasus.

 

Ringkasan Eksekutif tersedia untuk diunduh secara gratis dari situs ISAAA http://www.isaaa.org/. Untuk pembelian Brief 54 (cetak atau elektronik), kirimkan email ke publications@isaaa.org.