Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Bioteknologi, Solusi Ketahanan Pangan

Tanggal: 1 October 2019 | Sumber: Majalah Hortus | Penulis:

Indonesia dan juga dunia kedepan akan menghadapi permasalahan kekurangan pangan. Hal ini bisa disebabkan perubahan cuaca, alih guna lahan pertanian hingga makin bertambahnya populasi manusia. Jika tidak ada langkah antisipasi yang tepat, maka bahaya kelaparan bakal melanda dunia.

Hal tersebut disampaikan Prof. Bambang Sugiharto dari Center for Development of Advanced Science and Technology (CDAST) Universitas Jember Pada FGD yang bertema, “Akselerasi Penerapan Teknologi Pertanian Indonesia, Khususnya Manfaat Bioteknologi untuk kedaulatan Pangan” di Jakarta, 1/10/2019.

 

Menurut Bambang, penerapan teknologi pertanian, seperti persilangan dan seleksi tanaman untuk menghasilkan varietas baru dengan pertumbuhan dan produksi tinggi sudah dilakukan sejak dahulu kala. Masalah, peningkatan produksi dengan persilangan (green revolution) diikuti pula dengan input tinggi seperti pupuk dan obat-obatan. Jika terus-menerus dilakukan akan menimbulkan masalah pada lingkungan dan manusia.

 

“Penggunaan pestisida menyebabkan lingkungan menjadi tercemar dan membahayakan pekerja pertanian, hewan liar dan insekta. Kemudian, penggunaan pupuk berlebihan menyebabkan pencemaran air dan ledakan pertumbuhan alga. Penurunan nilai nutrisi makanan,” jelas Bambang.

 

Kemudian bagaimana untuk mengatasinya. Produktifitas pertanian tetap tinggi namun tanpa merusak lingkungan dan manusia.

 

Bambang menjelaskan, salah satu usaha yang tengah dikembangkan oleh pemerintah bersama akademisi dan pihak terkait adalah pemanfaatan bioteknologi untuk pertanian. Namun, lanjutnya, pemanfaatan produk pertanian hasil bioteknologi terutama hasil rekayasa genetika harus tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian yang berlandaskan pada keamanan pangan, keamanan pakan dan keamanan lingkungan sebelum masuk ke tahapan komersialisasi.

 

“Saat ini masih ada kekhawatiran di kalangan masyarakat akan bahaya yang mungkin ditimbulkan bagi kesehatan manusia, maupun keamanan lingkungan dari Produk Rekayasa Genetika atau PRG untuk tujuan pemenuhan kebutuhan pangan maupun sebagai bahan tanam pada usaha budidaya pertanian,” kata Bambang.

 

Bambang mengakui, keraguan akan keamanan tanaman PRG akan tetap ada selama jaminan keamanan masih belum bisa diberikan.

 

Mengenai jaminan akan keamanan produk hasil bioteknologi termasuk PRG Ketua Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik (KKH PRG), Prof. Dr. Bambang Prasetya menyatakan, untuk menjamin keamanan yang kemungkinan ditimbulkan pemanfaatan bioteknologi tersebut, bisa diawali dengan analisis dan kajian “Risk based Assessment”dengan pendekatan kehati-hatian (precautionary approach).

 

“Berdasarkan penelitian, penggunaan teknologi PRG aman dan sudah berusia 1/4 abad telah dimanfaatkan diberbagai negara untuk tanaman pangan, perikanan, pertenakan, kehutanan,” jelas Prasetya.

 

Untuk itu, lanjutnya, diperlukan harmonisasi regulasi antar regional dan negara: protocol dan standardisasi, Warna warni strategi berbagai negara dalam pengembangan dan pemanfaatan PRG.

 

“Saat ini belum sepenuhnya sinkron antara kebijakan bahwa Indonesia menerima teknologi PRG, dengan prinsip kehati-kehatian dengan implementasi di lapangan kurun waktu lebih dari 15 tahun,” jelasnya.

 

Prasetya menambahkan, pemanfaatan keanekaragaman hayati melalui bioteknologi dengan hasil berupa Produk Rekayasa Genetik (PRG) memberi peluang untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi pertanian dalam arti luas, dan industri pengolahan (bioindustri. Sehingga dapat menundukung ketahanan pangan, pakan, energi, kesehatan, industri farmasi, fiber dan lingkungan hidup.

 

Winarno Tohir, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Indonesia menambahkan, penerapan bioteknologi merupakan antisipasi akan kekurangan pangan saat yang akan datang. Apalagi, kondisi lahan pertanian di Indonesia makin menyusut, namun di sisi lain ada lahan potensial yang menunggu digarap.

 

"Kita punya 30 juta hektar lahan rawa dimana 10 juta hektar diantaranya bisa segera dimanfaatkan, begitu pulan dengan lahan gambut. Tentu saja pemamfaatan lahan rawa dan gambut memerlukan teknologi agar bisa diolah dengan baik, dan bioteknologi jadi salah satu jawabannya," ungkapnya.

 

Winarno mencontohkan, saat ini bioteknologi sudah diterapkan dibanyak negara maju. Amerika Serikat memiliki luas tanaman berbasis bioteknologi terbesar di dunia yaitu 75 juta ha untuk tanaman kapas, kedelai, dan jagung. Negara lain adalah Brazil untuk tanaman kedelai dengan luas lebih dari 50 juta ha. Begitu juga Argentina memiliki tanaman berbasis biotekbologi seluas 23 juta ha.

 

“Dari negara Asia yang terluas India juga telah memiliki tanaman berbasis biotekbologi seluas 11,4 juta ha,” tambahnya.

 

Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetika (BB Biogen) Kementerian Pertanian Mastur menambahkan, Kementerian Pertanian telah menetapkan target Indonesia sebagai lumbung pangan dunia dengan swasembada pangan di tahun 2045. Ada tujuh komoditas yang direncanakan mencapai swasembada di tahun itu semisal padi, jagung, kedelai dan lainnya.

“Diperlukan dukungan bioteknologi agar target swasembada pangan tercapai. Bioteknologi sendiri tidaklah selalu identik dengan PRG, misalnya saja bagaimana menghasilkan benih tanaman baru atau hibrida seperti yang sudah dilakukan oleh BB Gen untuk benih tanaman padi, jagung, kedelai, jeruk dan lainnya,” katanya.