Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Bioteknologi Solusi Atasi Ketersediaan Pangan Nasional

Tanggal: 11 September 2019 | Sumber: Info Publik | Penulis: Baheramsyah

Jakarta,InfoPublik - Populasi penduduk Indonesia saat ini sudah mencapai 260 juta jiwa dalam beberapa tahun kedepan akan terus meningkat. Hal ini menjadi tantangan serius bagi pemenuhan kebutuhan pangan nasional. Kondisi ini makin sulit karena lahan pertanian yang semakin menyusut, degradasi kualitas lahan dan lingkungan hidup akibat pencemaran atau praktek pengolahan lahan yang tidak berwawasan ekologis.

 

Menurut Direktur Indonesian Biotechnology Information Center (IndoBic) Bambang Purwantara, bioteknologi atau pemanfaatan sumber daya hayati melalui perekayasaan memiliki potensi yang besar untuk meningkatkan produksi pangan di tengah tantangan besar tersebut. Teknologi ini juga bisa menjadi jawaban dari ancaman krisis pangan di dunia, termasuk di Indonesia.

 

“Dengan kondisi lahan yang terbatas, kita masih bisa tetap memaksimalkan produksi pangan melalui teknologi biotek, tidak perlu menambuka lahan baru. Apalagi sejumlah negara juga sudah membuktikan kalau penerapan bioteknologi bisa meningkatkan pendapatan petani secara signifikan,” ungkap Bambang dalam "Youth Biotech Outreach" di Kampus Universitas Indonesia (UI) Depok, Selasa (10/9/2019).

 

Teknologi biotek saat ini diaplikasikan untuk mendapatkan beberapa varietas tanaman yang memiliki ketahanan dalam menghadapi perubahan iklim dan juga serangan hama. Penggunaan teknologi biotek ini, kata dia, bisa menurunkan penggunaan pestisida sehingga lebih ramah lingkungan.

 

Bambang menambahkan, penerapan bioteknologi untuk sektor pertanian di Indonesia tinggal menunggu disahkannya pedoman pengawasan dan pemantauan produk rekayasa genetika.

 

Menurutnya, Peraturan Menteri Pertanian No 36 tahun 2016 tentang Pedoman Pengkajian Keamanan Pakan Produk Rekayasa Genetika merupakan pembuka pintu untuk pengembangan produk ini.

 

"Sekarang tinggal menunggu pedoman pengawasan dan pemantauannya yang nanti akan berbentuk Permen. Diharapkan tahun ini bisa keluar Permennya," katanya.

 

Dikatakan, meskipun di Indonesia tanaman hasil rekayasa genetika belum dilakukan pelepasan, namun bukan berarti tidak ada pengembangan karena PTPN XI telah mengembangkan tebu yang toleran kekeringan hasil biotek, yang cocok untuk daerah sedikit air.

 

Selain itu juga dikembangkan kentang yang tahan hama penyakit sehingga mampu mengurangi penggunaan pestisida yang akhirnya menekan biaya produksi petani serta menurunkan pencemaran lingkungan.

 

Mengutip laporan yang dirilis oleh International Service for the Acquisition of Agri-biotech Applications (ISAAA) dia menyebutkan, lahan budidaya tanaman biotek telah meningkat hampir 113 kali lipat sejak tahun 1996, dengan luas kumulatif sekitar 2,5 miliar hektar.

 

Di negara-negara dengan adopsi tinggi terutama AS, Brasil, Argentina, Kanada, dan India, tingkat adopsi tanaman utama mendekati 100 persen.

 

 

Sementara Pakar Teknologi pangan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Dase Hunaefi menyampaikan, peningkatan produktivitas pertanian lebih baik dibandingkan membuka areal pertanian baru.

 

Menurut dia, pembukaan areal pertanian yang baru apalagi jika merambah hutan dikuatirkan merusak keanekaragaman hayati. Oleh karena itu perlu dukungan teknologi salah satunya biotek untuk mengatasi persoalan ketersediaan pangan.

 

"Brasil telah memanfaatkan bioteknologi untuk meningkatkan produksi pertaniannya dan negara itu juga merupakan negara dengan biodiversifikasi nomer satu di dunia," katanya.

 

Pendapatnya tersebut juga diperkuat hasil penelitian lembaga riset PG Economics yang berpusat di Dorchester, Inggris. Penelitian tersebut menunjukan tanaman bioteknologi terbukti memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan, serta memberi peluang bagi petani negara berkembang untuk meningkatkan kesejahteraannya dengan panen yang lebih banyak dan menggunakan sumber daya yang lebih sedikit.