Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Bioteknologi Pertanian Diyakini Dukung Kemandirian Pangan Nasional

Tanggal: 20 October 2015 | Sumber: Beritadewata.com | Penulis:

Kuta, Bali (beritadewata.com) - Indonesian Biotechnology Information Center (IndoBIC) bekerjasama dengan International Food Council (IFIC) Foundation, Universitas Udayana dan United States Department of Agriculture Foreign Agricultural Service (USDA-FAS), didukung oleh Perhimpunan Bioteknologi Pertanian Indonesia (PBPI), SEAMEO BIOTROP dan The International Service for the Acquisition of Agri-biotech Applications (ISAAA) menggelar seminar sehari di Kuta Bali, Selasa (20/10). 

 

Seminar sehari tersebut mengambil tema “Food Biotechnology Communicating, Media Relations and Multi-Sectoral Collaboration Training Workshop".   Hadir sebagai pembicara utama adalah Prof. Dr. Agus Pakpahan (Ketua Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetika), Prof. Dr. Bambang Purwantara dari IndoBIC, Dr. Alan McHughen, Profesor Bioteknologi dari University of California, Riverside, Andrew Benson dari IFIC Foundation, dan Heryanto Lingga, wartawan senior Indonesia. 

 

Para ilmuwan tersebut berkumpul untuk memetakan perkembangan terkini akan riset bioteknologi dunia. Kegiatan ini menjadi ajang berkumpulnya ilmwuan bioteknologi dunia dan dalam negeri, perusahaan bioteknologi global dan nasional, pemerintah selaku regulator dan media massa membicarakan isu-isu sentral terkait bioteknologi dan bagaimana memperkenalkan bioteknologi kepada masyarakat luas. Lokakarya diharapkan akan ada kesamaan sudut pandang dalam menyikapi kehadiran bioteknologi sebagai alternatif terkini dalam menjawab terus menurunnya produksi pangan di Indonesia dan global.

 

Menurut Bambang Purwantara, negara mana pun di dunia ini yang sudah mengembangkan bioteknologi diyakini bisa mendukungan ketahanan pangan dalam negeri walau didera musim dan hama. Ia berharap, Indonesia juga bisa melakukan hal yang sama yakni sentuhan teknologi dari Bioteknologi. “Bioteknologi memiliki potensi untuk meningkatkan produksi pangan, kesejahteraan petani dan mengurangi tekanan terhadap lahan dan lingkungan hidup melalui peningkatan produktivitas pertanian secara intensif dari setiap hektar lahan pertanian yang ada di Indonesia," ujar Bambang.

 

Sementara  Agus Pakpahan, Ketua KKH-PRG,  sejak pertama kali produk biotek dikomersialkan di dunia pada tahun 1996, Indonesia pertama kali mengadopsi di tahun 2000 dengan menanam kapas biotek di Sulawesi, hingga kini terdapat 15 produk bioteknologi yang telah mendapatkan persetujuan keamanan pangan di Indonesia. Komisi Keamanan Hayati Indonesia (KKH) baru-baru ini menyetujui dua produk bioteknologi antara lain tebu tahan kekeringan dan jagung toleran herbisida. Kedua produk ini sedang menunggu persetujuan untuk rilis komersial agar memenuhi persyaratan untuk dibudidayakan dalam pertanian di Indonesia bagi kepentingan petani.

 

Memang harus diakui, kehadiran bioteknologi tanaman pangan belumlah sepenuhnya diterima di semua negara secara terbuka. Meski seiring dengan perjalanan waktu dan penyempurnaan produk tanaman biotek terus dilakukan, akan  bertambah pula negara-negara yang membuka pintu mereka akan kehadiran tanaman biotek ini. Data ISAAA sudah memperlihatkan hal itu. Indonesia misalnya, sampai saat ini masih mengambil sikap hati-hati dalam menerima kehadiran tanaman biotek ini. Secara riset bioteknologi, Indonesia tidaklah ketinggalan dibanding dengan negara-negara maju. 

 

Hanya saja untuk pelepasan produk tanaman rekayasa genetika, sikap hati-hati Pemerintah Indonesia bukanlah menolak akan produk tanaman biotek ini. Setiap rencana pelepasan produk rekayasa genetika di dalam negeri akan melewati uji keamanan pangan dan uji keamanan hayati yang ketat setelah itu barulah bisa keluar rekomendasi Komisi Keamanan Hayati (KKH) kepada Menteri Pertanian untuk melepas sebuah produk tanaman rekayasa genetika tersebut. "Jadi sikap Indonesia jelas, tidak menghalangi upaya keilmuan untuk rekayasa genetika produk, tetapi tidak mempromosikan atau mendorong untuk segera dipublish," ujarnya.

 

Musim kemarau yang begitu panjang di Indonesia dan sebagian wilayah Asia membuat tingkat produksi pangan khususnya padi diperkirakan akan menurun dari target. Untuk mengatasi kondisi alam ini dan menjaga tingkat produksi yang stabil atau bahkan bisa meningkat memerlukan sebuah solusi mendesak. Jika tidak, ancaman krisis pangan global seperti yang terjadi pada 2008 lalu bukan mustahil akan terulang.  Salah satu alternatif solusi yang paling mungkin untuk menjawab tantangan alam adalah dengan solusi teknologi, diantaranya dengan memanfaatkan bioteknologi.

 

 Dalam menghadapi kenyataan kekeringan saat ini, bioteknologi telah merilis varietas padi tahan kekeringan. Bahkan, ketika memasuki musin penghujan nantinya, bioteknologi pun telah pula menghasilkan varietas padi tahan banjir. Masih banyak lagi contoh varietas-varietas tanaman pangan dan non-pangan yang mampu berproduksi tinggi dan memiliki keunggulan lainnya seperti tahan hama wereng, tahan herbisida, kaya akan vitamin serta lainnya yang merupakan buah karya bioteknologi.

 

Peran bioteknologi tanaman pangan dan non-pangan di dunia telah memperlihatkan perkembangan kemajuan begitu pesat. Beragam produk varietas telah dihasilkan dan telah pula dipasarkan ke publik global. Sebut misalnya varietas biotek kedelai, jagung, tomat, pepaya, labu, paprika, kapas, kanola, alfalfa  dan lainnya. Begitu pula bila melihat  sebaran luas areal tanaman tanaman biotek di dunia pun terus bertambah secara signifikan. Itu artinya semakin banyak negara yang mulai membuka diri dan menerima kehadiran varietas tanaman biotek karena melihat manfaat baik bagi petani dan lingkungan. 

 

Merujuk data yang dikeluarkan oleh International Service for Acquisition Agri-biotech Application (ISAAA), total sebaran luas tanaman biotek di dunia per 2015 sudah mencapai 181 juta hektar. Lebih lanjut berdasarkan hasil studi PG. Economic Ltd., tanaman bioteknologi membantu para petani memperoleh pendapatan yang lebih baik. Laba bersih dari hasil usahatani di tahun 2013 mencapai Rp. 291 triliun (USD20,5 miliar), setara dengan rata-rata peningkatan sebesar Rp.1,7juta ($122) per hektar. Jika diakumulasi, maka selama periode 17 tahun (1996 – 2013), keuntungan global mencapai Rp 1.895 triliun (USD133,5 miliar) dan keuntungan tersebut dinikmati oleh para petani baik di negara berkembang maupun negara maju. (AR/WID)