Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Bioteknologi dan Makanan Terbuang

Tanggal: 1 September 2015 | Sumber: Koran Republika | Penulis:

Amerika Serikat telah lama mengembangkan bioteknologi dalam bidang pertanian, termasuk genetically modified organism (GMO). Melalui Cochran Fellowship-USDA, enam jurnalis Indonesia, termasuk Ferry Kisihandi dari Republika, menyambangi AS untuk melihat lebih dekat penerapan bioteknologi dan perdebatan yang melingkupinya.

 

Spanduk berukuran 2 x 2 meter terpasang pada tembok green house Du Pont Johnston Research and Development Center, Iowa. Gambar seorang petani bertopi dengan kemeja lengan panjang dan bercelana jins yang berjalan di antara ladang jagung miliknya, tercetak pada spanduk.

 

Di atas gambar petani tertulis "How do we feed seven billion people today and another two billion by 2050". Kalimat ini merujuk pada data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menyatakan, pada 2013 populasi dunia telah menembus angka 7,2 miliar orang.

 

Pada 2050, jumlahnya menjadi sekitar 9,6 miliar orang. Pertambahan penduduk itu sebagian besar bakal terjadi di negara berkembang. Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mensyaratkan lonjakan produksi pangan 70 persen untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka. Berbekal kalimat pada spanduk di atas, Du Pont, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pertanian, mengerahkan tenaga melakukan riset bioteknologi untuk menghasilkan benih dan tanaman yang mampu berproduksi lebih banyak daripada tanaman biasa.

 

Presiden Du Pont Paul Schicker mengatakan, pada saat ini teknologi merupakan salah satu alat yang bisa diandalkan. Karena itu, Du Pont menggerakkan 4.500 penelitinya dan mengeluarkan dana 10 miliar AS untuk riset dan pengembangan bioteknologi dalam bidang pertanian.

 

"Kita gunakan sains, bisa bioteknologi termasuk melakukan modifikasi genetika organisme (GMO) untuk menghasilkan produk pangan yang efektif," kata Schicker, di kantor Du Pont Johnston Research and Development Center, Iowa, Senin (17/8).

 

Bioteknologi, baik dengan melakukan teknik pembibitan yang menghasilkan tanaman hibrida maupun GMO, merupakan salah satu alat meningkatkan jumlah panen dan nutrisi pada tanaman, misalnya padi, jagung, kedelai, dan tanaman lainnya.

 

Melalui bioteknologi, kata Schicker, modal petani lebih sedikit karena memungkinkan pengurangan jumlah penggunakan pestisida. Apalagi, banyak benih hasil pengembangan bioteknologi memang dirancang tahan hama, selain itu hasil panen melimpah.

 

Ini membuat petani memiliki pendapatan lebih besar dibandingkan menggunakan benih biasa. Schicker mencontohkan petani jagung hibrida, di Madura, Jawa Timur, mampu memanen 10 metrik ton jagung per hektare yang sebelumnya 2 metrik ton.

 

Meski demikian, Schicker mengingatkan, bioteknologi bisa berkembang baik kalau memang petani benar-benar menghendaki teknologi untuk meningkatkan hasil panennya serta adanya aturan pemerintah setempat yang mendukung. Di Amerika Serikat, misalnya, sekitar 90 persen produk pertanian mereka berasal dari GMO yang merupakan buah dari pengembangan bioteknologi. Untuk kawasan Asia, Cina bisa menjadi contoh negara yang berinvestasi besar dalam bioteknologi.

 

Laporan Global Food Security Index (GFSI) 2015 yang diterbitkan The Economist Intelligence Unit menjelaskan, Cina tak hanya berinvestasi untuk riset pengembangan bioteknologi, tetapi juga perlindungan tanah dan konservasi air. Cina mendorong perusahaan swasta untuk menguji bioteknologi mereka di lahan yang ditentukan dan bersama-sama dengan para ilmuwan perusahaan memantau hasil bioteknologi tersebut.

 

Pemerintah Indonesia memilih ekstensifikasi dengan menambah 23 ribu hektare sawah yang ditargetkan tercapai Desember 2015 ini. Perluasan tersebut untuk menambah lahan sawah baru yang sudah ada saat ini sekitar 9,2 juta hektare.

 

Cetak sawah baru yang terluas tersebar di 11 kabupaten, di antaranya di Merauke, Papua, 10 ribu hektare dan Bangka Selatan 3.000 hektare. Kementerian Pertanian menyatakan, cetak sawah baru memakan biaya Rp 15 juta per hektare, khusus lahan di Merauke Rp 19 juta.

 

Menurut Presiden Donald Danfort Plant Science Center, Saint Louis, Missouri, James C Carrington, pengembangan bioteknologi termasuk GMO bertujuan untuk menjawab tantangan pangan pada 2050 saat populasi mencapai 9,6 miliar orang. Untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka, perlu bioteknologi yang mampu melahirkan jenis tanaman pangan yang mendongkrak produktivitas.

 

Carrington juga menegaskan, isu keamanan pangan pada 2050 terkait erat pula dengan isu-isu lingkungan. "Ini berarti, bagaimana kita mengembangkan tanaman yang tak harus banyak membutuhkan air dan produksinya tetap banyak meski tumbuh di lahan yang tak luas," kata Carrington, Jumat (14/8). Dengan demikian, tantangan pangan 2050 tak melulu soal teknologi.

 

Direktur Eksekutif Institute for International Crop Improvement pada Donald Danforth Plant Science Center Paul Anderson berpandangan sama dengan Carrington. Teknologi dalam bidang pangan bisa menciptakan tanaman yang tak hanya tahan hama, tetapi juga bernutrisi lebih baik.

 

Menurut dia, lembaganya bekerja sama dengan sejumlah negara Afrika, seperti Ghana dan Kenya, mengembangkan singkong dengan varietas unggul. Singkong itu tahan hidup di lahan yang kurang subur, kekurangan air, dan biaya buruh lebih rendah.

 

Jenis singkong yang mereka kembangkan juga mengatasi cassava brown streak disease (CBSD), serangan hama yang sebelumnya terus terjadi dan membuat produktivitas menurun. Pada akhirnya, kata Anderson, petani memanen hasil lebih baik.

 

Dalam praktiknya, lembaga independen ini juga menampung ribuan peneliti dari berbagai negara untuk mengembangkan jenis tanaman unggul. Mereka memiliki pusat penelitian dan green house atau tempat pengembangan tanaman yang mereka teliti.

 

Anderson juga menguatkan pandangan Carrington. Tantangan pangan pada 2050, kata dia, bukan sekadar berfokus pada pengembangan bioteknologi. "Pangan yang terbuang juga harus kita perhatikan," ujar dia menegaskan.

 

Ia merujuk data FAO, secara global setiap tahun terdapat sekitar 1,7 miliar ton makanan atau setara 30 persen pangan terbuang. Ini terjadi pada proses penyimpanan hasil panen tanaman pangan hingga konsumsi. "Jika teratasi, ini mengurangi potensi kekurangan pangan."