Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

BIOTEKNOLOGI-Biopeat Solusi Pertanian di Lahan Gambut

Tanggal: 13 December 2016 | Sumber: Harian Kompas | Penulis:

JAKARTA, KOMPAS - Pencemaran asap akibat pembakaran lahan gambut kerap terjadi di Riau. Praktik pertanian tak ramah lingkungan itu sengaja dilakukan agar memperoleh abu serasah yang digunakan untuk mengurangi keasaman lahan tak subur itu.

 

Upaya meredam kerusakan lingkungan antara lain dilakukan dengan menerapkan pupuk hayati biopeat. Uji coba karya inovasi peneliti dan perekayasa Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, menunjukkan hasil yang baik.

 

Hal ini disampaikan Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi, Eniya Listiani Dewi, seusai meresmikan Laboratorium dan Pusat Informasi Teknologi Biopeat (LPITB) Pulau Burung, Indragiri Hilir, Sabtu (10/12).

 

"Dengan pupuk hayati ramah lingkungan ini, kesuburan lahan pertanian dapat ditingkatkan 50 persen," ujar Eniya.

 

Ia berharap model pertanian yang dikembangkan BPPT bersama PT Riau Sakti United Plantations (RSUP) itu dapat dimassalkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani.

 

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Indragiri Hilir Tantawi Jauhari menanggapi, pihaknya akan menerapkan pupuk ini untuk lahan sagu, kakao, pinang, dan kopi. Kabupaten Indragiri Hilir memiliki kawasan gambut hampir sejuta hektar atau terluas di Provinsi Riau yang totalnya lebih dari 4,3 juta hektar.

 

Pupuk limbah nanas

Biopeat dirintis di Laboratorium Bioindustri BPPT Serpong tahun 2008. Pupuk ini mengandung strain jamur atau fungi unggulan hasil seleksi dari sekitar 25 isolat jamur yang diperoleh dari kawasan gambut di Kalimantan. "Biopeat ini telah memperoleh paten," kata Kepala Pusat Bioindustri BPPT Edi Wahjono.

 

Dengan memberikan biopeat, lahan masam dengan pH 4 dapat meningkatkan menjadi pH 6 hingga netral. Selama ini biopeat generasi satu ini diterapkan di perkebunan jagung," ucap Diana Nurani, Kepala Program Pupuk dan Pestisida Hayati BPPT.

 

Tim BPPT bersama peneliti dari perusahaan perkebunan itu berhasil memperoleh paten inovasi baru Biopeat Pine, yaitu pupuk hayati yang dihasilkan dari limbah nanas.

 

Unit produksi Biopeat Pine dibangun di kawasan seluas 0,25 hektar. "Bahan baku limbah dihasilkan dari perkebunan nanas seluas 4.000 hektar yang merupakan tanaman tumpang sari di atara perkebunan kelapa seluas 22.650 hektar," ujar Kamaruddin, Manager Representatif Divisi Perkebunan PT RSUP.

(YUN)