Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Bioteknologi Berpotensi Jadi Bisnis Masa Depan

Tanggal: 30 January 2018 | Sumber: validnews.co | Penulis:

JAKARTA- Bioteknologi diyakini akan menjadi bisnis masa depan dan memiliki potensi ekonomi yang cukup besar. Diperkirakan, nilai pasar dunia hasil bioteknologi mencapai US$604,40 miliar pada 2020.

 

"Indonesia adalah sumber bioteknologi. Jadi, ruangnya luar biasa besar. Bisnis bioteknologi sangat menguntungkan jika telah menguasai riset, teknologi, dan infrastrukturnya," kata Pakar Agronomi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Bayu Krisnamurthi dalam seminar bertajuk "Refleksi dan Masa Depan Bioteknologi Pertanian dalam Mendukung Kedaulatan Pangan di Indonesia" di Jakarta, Senin (30/1).

 

Ia mencontohkan, India yang memberikan target pemasukan sekitar US$100 miliar hingga tahun 2025 dari bisnis bioteknologi.

 

Sayangnya, Mantan Wakil Menteri Pertanian itu mengungkapkan, selama ini bioteknologi hanya difokuskan pada produk rekayasa genetika atau Geneticaly Modified Organism (GMO). Padahal, lanjut Bayu, produk GMO hanya 10% kontribusinya pada bioteknologi, sementara 90% sisanya selama ini justru tidak disentuh.

 

Sementara itu, Ketua Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetika (KKH-PRG) Agus Pakpahan mengatakan, hingga kini terdapat beberapa produk bioteknologi yang telah mendapatkan persetujuan keamanan pangan di Indonesia. Lembaga yang dipimpinnya, baru- baru ini menyetujui dua produk bioteknologi antara lain tebu tahan kekeringan dan jagung toleran herbisida.

 

"Kedua produk ini sedang menunggu persetujuan untuk rilis komersial agar memenuhi persyaratan guna dibudidyakan dalam pertanian di Indonesia bagi kepentingan petani," ujar Mantan Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian tersebut.

 

Agus mengakui, kehadiran bioteknologi tanaman pangan belum diterima sepenuhnya di semua negara secara terbuka. Namun, dia meyakini seiring dengan perjalanan waktu dan penyempurnaan, produk tanaman biotek terus dilakukan, maka akan bertambah pula negara-negara yang membuka pintu akan kehadiran tanaman biotek.

 

"Secara riset bioteknologi, Indonesia tidaklah ketinggalan dibanding negara-negara maju. Hanya saja untuk pelepasan produk tanaman rekayasa genetika, sikap hati-hati pemerintah bukanlah menolak akan produk tanaman biotek ini," tuturnya.

 

Guru Besar IPB Antonius Suwanto menyatakan, kemajuan teknologi terbukti telah menghasilkan peningkatan produktivitas pertanian yang luar biasa. Sayangnya, kata Direktur IndoBIC Bambang Purwantara, hingga saat ini sudah lebih dua tahun penyusunan Pedoman Pengawasan setelah pelepasan produk bioteknologi belum juga diselesaikan

 

"Perubahan Permentan untuk pelepasan varietas tanaman pangan, dimana Permentan untuk pelepasan varietas biotek belum disusun atau dibuat pemerintah," serunya. Sementara Permentan no 61 tahun 2011 mengenai Penilaian, Pelepasan, dan Penarikan Varietas Tanaman menjadi dilematis karena terkait pembubaran Balai Benih Nasional.

 

Dana Besar

Sebelumnya, seperti dikabarkan Antara, Korea Selatan akan menghabiskan ?349 miliar (sekitar Rp4,69 triliun) tahun ini untuk mengembangkan teknologi bio baru. Dana sebesar itu dikeluarkan sebagai bagian dari upaya menjadi pusat industri bioteknologi dan medis global.

 

Kantor Berita Yonhap melaporkan bahwa anggaran 2018, yang meningkat 10,5% dari tahun sebelumnya, digunakan untuk mengembangkan sektor bioteknologi, seperti sains genom dan otak, kata Kementerian Ilmu Pengetahuan dan ICT Korea Selatan.

 

Dari jumlah tersebut, ?59,4 miliar akan dialokasikan untuk membantu mengembangkan pil baru karena Seoul bertekad menjadi kekuatan global di bidang farmasi dan perawatan kesehatan.

 

Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan bioteknologi lokal menjadi lebih kompetitif secara global dalam pengembangan penelitian dan dukungan kebijakan maupun dana dari pemerintah. Namun, Korea Selatan masih tertinggal dalam pengembangan obat baru, khususnya obat yang disebut pil blockbuster.

 

Sebanyak 27 obat Korea Selatan telah mendapatkan izin edar di toko obat-obatan dalam negeri sejak injeksi anti-kanker SK Global Chemical Co., Sunpla, pertama kali disetujui pada 1999. Selain itu, menurut beberapa pejabat, sebanyak ?25,3 miliar dianggarkan untuk pengembangan instrumen medis dan ?38 miliar untuk melakukan penelitian sains otak.

 

Kementerian Ilmu Pengetahuan dan ICT Korea Selatan juga ingin menggunakan anggaran untuk menyediakan lingkungan di mana para peneliti muda dapat dengan bebas fokus pada penelitian dan pengembangan di bidang kedokteran dan peralatan medis.

 

Kerjasama Bilateral

Indonesia sendiri sebenarnya tidak hanya berdiam diri. Akhir tahun lalu, Indonesia dan Jerman menggarap delapan proyek kerja sama bilateral berbasis bioteknologi.

 

"Indonesia ini kaya akan keanekaragaman hayati, namun pemanfaatan secara nyata masih sedikit sekali. Kerja sama dengan Jerman akan lebih konkret lagi sehingga pemanfaatan untuk kedua negara bisa tercapai," kata penasihat bidang sains dan teknologi Kedutaan Besar Jerman Michael Rottman pada pembukaan pameran di Museum Nasional, Jakarta.

 

Michael mengatakan kerja sama ilmiah antara Indonesia dan Jerman sudah dimulai sejak 1960-an. Kemudian pada 12 tahun terakhir, penelitian lanskap Indonesia, seperti keanekaragaman hayati, kelautan, dan pemanfaatan obat dari bahan alam mulai dilakukan.

 

Adapun proyek bioteknologi yang dikerjakan oleh peneliti kedua negara, antara lain penyediaan sumber air dari pompa tanpa tenaga listrik, bidang kesehatan yang menghasilkan obat anti infeksi dan inventarisasi koleksi keanekaragaman hayati di Indonesia.

 

Setiap proyek kerja sama ilmiah antarkedua negara ini memiliki mitra kerja dengan lembaga terkait, seperti universitas setempat, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) serta Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

 

Salah satu dari delapan proyek yang dikembangkan adalah di bidang kesehatan, yakni riset penemuan senyawa atau biota aktif dari tumbuhan, hewan dan mikroba untuk mengatasi infeksi baik yang terjadi di Indonesia maupun Jerman.

 

"Di Jerman dan Indonesia, ada berbagai jenis infeksi yang semakin susah ditangani karena obat tersebut resisten terhadap biota tertenyu sehingga kami ingin mengatasi masalah yang berbeda antarnegara tapi dengan cara yang serupa," kata peneliti LIPI bagian rekayasa genetika dan biologi kesehatan Wien Kusharyato.

 

Wien mengatakan penelitian selama lima tahun ke depan ini dilakukan dengan pendekatan dan cara yang berbeda untuk mendapatkan senyawa baru yang berfungsi sebagai antiinfeksi. Menurut Wien, Jerman mendonasikan dana sebesar €7 juta untuk delapan proyek bioteknologi yang bermanfaat untuk Indonesia dan Jerman. (Faisal Rachman)