Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Berdaulat Pangan dengan Sorgum

Tanggal: 19 May 2018 | Sumber: kompas.id | Penulis: AHMAD ARIF

Udara di Dusun Likotuden, Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (12/5) siang itu terasa begitu panas. Matahari musim kemarau terik memanggang, membuat pepohonan mulai meranggas.

 

Hamparan tanaman sorgum dengan bulir-bulir bernas yang siap dipanen terlihat kontras dengan tanah kering yang dipenuhi batuan hitam. Di hamparan lainnya, tunas-tunas baru sorgum menghijau. Tunas itu tumbuh setelah panen pertama dua minggu sebelumnya.

 

“Sorgum telah menjadi tumpuan hidup kami. Ketika sumber pangan lain seperti jagung dan padi selalu gagal panen, sorgum bisa tumbuh subur dan memberi panen berlimpah,” kata Kepala Desa Kawalelo, Paulus Iki Kola (52).

 

Siang itu, Paulus dan istrinya tengah memanen hamparan sorgumnya yang ditanam di lahan berbatu seluas sekitar satu hektar. “Hampir semua warga desa saat ini memiliki lahan sorgum,” kata dia.

 

Menurut Paulus, luas lahan sorgum di desanya sudah mencapai 70 hektar (ha) dan terus bertambah tiap tahun. Dari 158 keluarga di desanya, hanya 11 keluarga yang belum menanam sorgum, itu pun arena mereka pegawai negeri sehingga tidak punya waktu untuk bertani.

 

“Dulu kami tergantung raskin (beras miskin), sekarang bisa berlebih pangan, bahkan bisa menjual sebagian untuk tambahan ekonomi,” kata Agata Hore Kolah (43), warga Dusun Likotuden.

 

Selain dimasak sebagaimana menanak beras, menurut Agata, sorgum juga bisa diolah menjadi beragam panganan. Mulai dari minuman sejenis sereral hingga aneka kue. “Mulai dari anak-anak hingga orang tua sekarang sudah biasa makan sorgum,” kata dia.

 

Sorgum memang telah mengubah kehidupan masyarakat Kawalelo. Desa yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu kantong kemiskinan di Flores Timur dan tergantung bantuan raskin–sekarang berubah nama menjadi beras sejahtera–kini telah berdaulat pangan.

 

Sebelumnya, sebanyak 63 keluarga atau lebih dari sepertiga penduduk desa ini digolongkan miskin dan mendapat jatah raskin 10 kg per keluarga per bulan. Namun, sejak menanam sorgum pada tahun 2014, perlahan mereka mulai bisa memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.

 

“Kami berencana meminta pemerintah agar tidak lagi mengirim bantuan raskin. Silakan dikirim ke daerah lain,” kata Agata.

 

Paulus mengatakan, selain tahan kering dan tahan hama penyakit, sorgum juga dipanen dua hingga tiga kali. Rata-rata satu hektar bisa menghasilkan 5 – 6 ton sorgum kering panen setiap tahun.

 

Hasil panen ini tergolong tinggi untuk Desa Kawalelo yang merupakan salah satu daerah paling kering di Flores Timur dengan kondisi lahan berbatu. Dalam setahun rata-rata hujan hanya terjadi dalam tiga bulan, yaitu pada Desember hingga Febuari.

 

Bahkan, menururt Yosep Atan Hera (55), tokoh adat Kawalelo, belakangan hujan dirasakan semakin berkurang. “Kami tidak tahu apa yang terjadi, tetapi semakin ke sini, tanaman jagung dan padi memang semakin sering gagal panen karena selalu kekeringan,” kata dia.

 

Tanaman adaptif

 

Data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pola hujan di wilayah Indonesia memang telah berubah. “Pantauan pola hujan dari Stasiun Meterologi di Larantuka (Flores Timur), curah hujan sejak tahun 1981 di daerah ini memang semakin kecil,” kata Kepala Subbidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Siswanto.

 

Data ini sesuai dengan kajian terbaru dari NASA dan University of Maryland’s Earth System Science Interdisciplinary Center (ESSIC) yang dipublikasikan di jurnal Nature pada 17 Mei 2018. Secara global, kawasan yang sebelumnya banyak hujan menjadi semakin basah, sebaliknya daerah yang sebelumnya kering menjadi semakin kering. Pergeseran ini, salah satunya dipicu oleh tren perubahan iklim global.

 

Lembaga Pangan Dunia (FAO) menyatakan, perubahan iklim telah menjadi tantangan pemenuhan pangan ke depan. Misalnya, kelaparan yang melanda Tanduk Afrika pada 2011 akibat kekeringan, merupakan yang terburuk dalam 60 tahun dan diperkirakan akan semakin mengancam ke depannya.

 

Maria Loretha, petani Adonara, Flores Timur yang mengenalkan sorgum ke masyarakat Kawalelo mengatakan, sorgum terbukti bisa menjadi solusi pangan untuk daerah kering sepeti di Flores Timur.

 

“Tak hanya di Flores, tanaman ini sangat cocok untuk NTT yang curah hujannya memang sangat rendah dan semakin rendah karena perubahan iklim,” kata Loretha yang merintis budidaya sorgum sejak tahun 2007.

 

Menurut Maria, sorgum sebenarnya bukan tanaman yang baru bagi masyarakat Flores. Tanaman ini dulu pernah dikembangkan dan dikonsumsi masyarakat di daerah ini, namun kemudian ditinggalkan karena masyarakat beralih ke beras.

 

Maria dan suaminya, Jery Lator kini telah mengembangkan sorgum di berbagai daerah lain di Flores. “Sorgum sangat kuat dan mudah beradaptasi dengan segala kondisi cuaca tanah. Bahkan, dia bisa kembali tumbuh dan berbuah lagi setelah dipanen dengan menyerap air dari embun,” kata Jery.

 

Selain sistem perakarannya yang kuat dan dalam, permukaan daun sorgum mengandung lapisan lilin dan sistem perakaran ekstensif dan dalam sehingga toleran kekeringan. Keunggulan fisiologis inilah yang membuat peneliti Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) I Made Sudiana meyakini, sorgum bisa menjadi solusi bagi lahan marjinal di Indonesia.

 

Menurut data National Renewable Energy Laboratory (NREL), luas lahan kering dan marjinal di Indonesia mencapai 37.123 kilometer persegi atau sekitar 2 persen total area di negeri ini. Namun demikian, selama ini pertanian lahan kering cenderung dianaktirikan karena pola pemenuhan pangan yang masih bertumpu pada beras yang dihasilkan pada lahan sawah.

 

Padahal, sebeperti dibuktikan oleh petani dari Desa Kawalelo, sorgum telah membuat mereka berdaulat pangan. Apalagi, dari aspek gizi, sorgum juga memilki kandungan nutrisi sangat baik. Bahkan, proteinnya lebih tinggi dari beras. Selain itu, sorgum juga memiliki indeks glikemik rendah sehingga cocok untuk penderita diabetes, selain juga bebas gluten.

 

Kesuksesan Desa Kawalelo mulai menginspirasi desa-desa lain. Misalnya, masyarakat Desa Kimakamak, Kecamatan Adonara Barat, Flores Timur, mulai kembali menanam sorgum sejak dua tahun terakhir setelah sebelumnya melakukan studi lapangan ke Kawalelo.

 

“NTT yang dikenal sebagai daerah miskin dan kurang pangan sebenarnya bisa swasembada asal mau menanam sorgum dan kembali ke ragam pangan lokal lain seperti umbi-umbian yang tahan kering,” kata Maria.

 

Perubahan ini hanya mungkin terjadi jika pemerintah mau mengubah pola pikirnya, tidak lagi memaksakan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat dengan beras. Pemenuhan pangan harus disesuaikan dengan kondisi alam lokal.