Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

BB Biogen kembangkan kentang biotek hemat aplikasi fungisida

Tanggal: 27 May 2016 | Sumber: Kabar Bisnis | Penulis:

JAKARTAkabarbisnis.com : Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian tengah mengembangkan benih kentang transgenik yang mampu menghemat penggunaan fungisida 50-80%. Bila tidak ada aral melintang, kentang biotek tahan penyakit busuk daun (phytophtora infestans) diharapkan dapat dilepas pada 2018 mendatang.

 

Fungisida adalah senyawa pestisida yang membunuh atau menghambat cendawan penyebab penyakit. Dalam aplikasinya, petani cenderung menyemprot fungsida antara 20-30 kali per musim .

 

"Petani sudah menyemprot fungisida pagi harinya,namun apabila siangnya hujan, mereka semprot lagi. Bayangkan berapa banyak residu fungisida di daun kentang dan ini beresiko terhadap keamanan pangan," ujar anggota Komisi Keanekaragaman Hayati (KHH) Bidang Keamanan Pangan M. Herman kepada wartawan di Jakarta, Jumat (27/5/2016).

 

Menurut Herman penyakit busuk daun merupakan penyakit yang kerap terjadi pada tanaman kentang khususnya pada musim penghujan.Keganasan penyakit jamur ini dapat mengurangi hasil 90-100%. "Bahkan dapat menyebabkan kematian," ujarnya.

 

Atas hal itu,BB Biogen berupaya mengembangkan varietas kentang tahan penyakit daun. Penelitian pun dimulai dengan melakukan persilangan antara varietas granola dengan atlantik sejak 2006.

 

Uji penanaman dilakukan di empat lokasi seperti Pasir Sarongge, Lembang, Pengalengan dan Banjarnegara dengan menyilangkan 43 sumber benih dari dua jenis kentang diatas. Dalam prosesnya,terseleksi kembali hingga enam sumber benih.

 

Dari hasil uji coba,varietas kentang transgenik ,tidak terserang jamur. Sementara pada kentang non transgenik katahidin pada usia 48 hari terserang jamur hawar daun.

 

"Sebaliknya, tanaman kentang transgenik cukup disemprot fumigasi10 kali hasilnya tidak berbeda dengan tanaman kentang non transgenik yang disemprot hingga 20 kali,"tukasnya.

 

Dengan penggunaan varietas biotek,kata Herman‎, tanaman kentang akan lebih ramah lingkungan. Selain itu petani dapat menghemat biaya penyemprotan fungisida  50% atau minimal Rp 4,09 juta.

 

"Namun,di lokasi uji coba lainnya,peluang penghematan penggunaan fungsida dapat ditingkatkan hingga Rp 6,55 juta atau 80%," terangnya.

 

Herman menambahkan kentang biotek ini sudah mendapat rekomendasi lolos pengujian keamanan pangan pada tahun 2015. Sementara tahun 2016 ini tengah diajukan audit keamanan lingkungan.

 

 

"Selanjutnya, di tahun 2017, akan diperiksa persyaratan keamanan pakan.Kita harapkan,tahun 2018, benih kentang trangenik hemat fungsida dapat dilepas ke pasar," pungkasnya.kbc11