Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Banyak Negara Rasakan Manfaat Transgenetik, Indonesia Masih Ragu

Tanggal: 12 September 2017 | Sumber: Suara Karya | Penulis: Laksito Adi Darmono

JAKARTA (Suara Karya): Tanaman transgenik yang dihasilkan dari rekayasa genetika diklaim telah mengurangi dampak lingkungan pertanian secara signifikan dan mendorong pertumbuhan ekonomi di 26 negara di mana teknologi ini diadopsi. Teknologi ini juga dinilai turut membantu mengurangi angka kemiskinan hingga 16,5 persen di kalangan petani kecil di negara-negara berkembang.

 

"Selama 20 tahun terakhir, para petani telah diberikan akses dan pilihan menanam tanaman biotek atau tanaman hasil rekayasa genetika. Mereka secara konsisten mengadopsi teknologi ini sehingga memberikan kontribusi bagi suplai makanan yang lebih berkelanjutan dan lingkungan yang lebih baik di mana mereka tinggal," ujar Direktur PG Economics, Graham Brookes di Jakarta, Senin (11/9).

 

Graham menegaskan tanaman transgenik memungkinkan petani untuk meningkatkan hasil panen tanpa menambah luas lahan. Menurutnya, teknologi tahan hama yang digunakan dalam kapas dan jagung telah secara konsisten meningkatkan hasil panen dan mengurangi kerusakan yang disebabkan oleh hama.

 

Dari 1996 hingga 2015 di semua negara pengguna teknologi ini, hasil panen meningkat rata-rata 13,1% untuk jagung dan 15% untuk kapas. "Petani yang menanam kedelai di Amerika Selatan mengalami kenaikan rata-rata 9,6%," kata Graham.

 

Dari sisi lingkungan, lanjut Graham, sejak 1996 hingga 2015 penggunaan teknologi ini mengurangi penggunaan pestisida sebesar 619 juta kilogram (kg). "Ini lebih dari total produk pestisida yang digunakan di China setiap tahunnya," katanya.

 

Bioteknologi pangan, termasuk yang menghasilkan tanaman transgenik, berpotensi menjadi solusi bagi Indonesia mewujudkan kedaulatan pangan. Dengan mengadopsi teknologi ini berpotensi bisa meningkatkan produksi, tanpa menambah luas tambah tanam (LTT).

 

Kendati demikian, pemerintah hingga saat ini masih bersikap hati-hati untuk menerima teknologi ini. Pengamat pertanian Bustanul Arifin menduga, sikap pemerintah tersebut didasari pada kegagalan penerapan teknologi hibrida pada benih padi.

 

"Kita pernah punya kegagalan di teknologi hibrida padi, walaupun jagung berhasil. Tapi kegagalan di padi itu membuat pemerintah gamang untuk menerapkan teknologi transgenik ini," kata Bustanul.

 

Penyebab lainnya, perusahaan benih nasional maupun BUMN belum siap bersaing dengan perusahaan benih multinasional. "Ini dugaan saya kenapa hingga saat ini pemerintah masih takut menerapkan teknologi ini," katanya.

 

Padahal untuk meningkatkan produktivitas, harus ada terobosan penggunaan teknologi. Ini mengingat produktivitas tanaman padi saat ini sudah tidak bisa ditingkatkan lagi. "Produktivitas tanaman di sentra tanaman padi sudah tidak bisa ditingkatkan. Oleh karena itu perlu adanya terobosan penggunaan teknologi baru. Bisa jadi teknologi transgenik ini jadi jawabannys," ujar Bustanul.

 

Masalah budaya masyarakat juga dapat menjadi penyebab keengganan menggunakan teknologi transgenetik pada tanaman. "Masyarakat Sumbar masih senang menggunakan IR 42 produksi 1980 karena dianggap paling cocok untuk nasi kapau. Mereka nggak mau ganti kalau belum ada bukti," katanya lagi. ***