Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Balitbangtan dan Ditjen PKH Bersinergi Manfaatkan Bioteknologi

Tanggal: 2 July 2019 | Sumber: swadaya online | Penulis: udin abay

Swadayaonline.com - Kementerian Pertanian (Kementan) di bawah kepemimpinan Dr Andi Amran Sulaiman terus meningkatkan kinerja baik swasembada pangan, ekspor, program biodiesel kesejahteraan melalui berbagai kebijakan terutama pemanfaatan teknologi digital dalam era industri 4.0. Sabtu lalu, Mentan melakukan Soft Launching Membangun Pertanian 4.0 di Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, pada tanggal 29/6/2019.

 

Adopsi teknologi digital sangat penting karena memiliki daya ungkit dalam meningkatkan produktivitas, efisiensi dan rantai nilai pertanian. Pertemuan Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BB Biogen) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) dengan Kepala Pusat Veteriner dan Farma (Ka. Pusvetma) Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) di acara tersebut sangat penting karena berlanjut dengan penjajagan kerjasama sinergi antar kedua institusi Kementerian Pertanian (Kementan) tersebut.

 

Pusvetma adalah Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan yang telah berstatus Badan Layanan Umum (BLU) dengan tugas untuk memproduksi, pengujian, distribusi dan pemasaran serta pengembangan vaksin, antigen dan antisera, serta bahan biologik lain.

 

Terkait dengan tugas dan fungsinya tersebut, Kepala Pusvetma sangat tertarik dengan salah produk teknologi digital sektor peternakan yang sedang dikembangkan BB Biogen, yaitu tes kit kebuntingan pada sapi. Beberapa produk teknologi digital bioteknologi tanaman dan ternak telah dikembangkan baik berupa varietas unggul, metode dan kit deteksi berbasis DNA, dan biosprospeksi.

 

Kepala Pusvetma Agung Suganda tertarik pada kit deteksi yang dikembangkan BB Biogen. Sebagai tindaklanjutnya Ka Pusvetma mendiskusikan teknologi tersebut dengan Tri Puji Priyatno, peneliti yang berhasil mengembangkan test kit kebuntingan pada sapi. Tri menjelaskan bahwa test kebuntingan sapi berbasis antibodi terhadap protein ISG17 yang saat ini dalam tahap validasi.

 

"Tingkat akurasi kit masih berkisar antara 75-83,5% berdasarkan pengujian terhadap 135 sample urin sapi. Keunggulan kit ini adalah mampu mendeteksi umur kebuntingan kurang dari 1 bulan dan penggunaan urin sapi sebagai sampelnya. Selain itu, antibodi yang digunakan dikembangkan dari protein rekombinan ISG17 sehingga produksi masal kit dapat dilakukan dengan lebih efisien. Dalam penggunaannya, kit cukup direaksikan dengan 0,5 ml urin untuk mendeteksi status kebuntingan sapi dalam waktu 30-45 menit. Kit masih terus disempurnakan untuk meningkatkan akurasinya lebih dari 90%," tutur Tri Puji.

 

Ka. Pusvetma Agung Suganda sangat tertarik dengan hasil riset kit kebuntingan tersebut. Menurutnya kit kebuntingan pada sapi ini perlu untuk bersama-sama dikembangkan agar segera dapat digunakan oleh peternak dan pengguna lainnya. "Penggunaan test kit kebutingan sapi sangat penting untuk mendukung program Sapi Indukan Wajib Bunting (SIWAB) yang dicanangkan Menteri Pertanian dalam upaya melakukan percepatan swasembada daging nasional 2026.

 

Program SIWAB dilaksanakan melalui optimalisasi betina produktif dengan program inseminasi buatan (IB). Selama ini, deteksi kebuntingan sapi masih dilakukan secara konvensional dengan palpasi rektal atau PKB pada usia kebuntingan minimal 2 bulan agar tidak menyebabkan keguguran.

 

Jika tidak terjadi kebuntingan, sapi akan IB kembali pada masa birahinya, artinya akan ada waktu terbuang minum 2-3 tiga bulan bila IB-nya gagal. Oleh karena itu, dengan adanya tes kit yang mamu mendeteksi status kebuntingan sapi kurang dari satu bulan akan sangat membantu dalam optimalisasi betina produktif untuk di IB," tuturnya.

 

Agung Suganda sangat mendorong hasil riset BB Biogen untuk segera digunakan oleh peternak. Apalagi dengan adanya aturan bahwa petugas PKB harus disertifikasi maka dukungan teknologi kit deteksi kebuntingan yang simple, mudah digunakan, memililki akurasi tinggi, dan harganya terjangkau, sangat dibutuhkan di peternak di lapang.

 

Untuk mempercepat pengembangan test kit kebuntingan ini, Pusvetma memiliki fasilitas untuk produksi antibodi, packaging kit, dan manajemen pemasarannya. Sedangkan BB Biogen tinggal melakukan penyiapan antigen rekombinan ISG17, purifikasi antibody, dan preparasi reagen-reagen kitnya. Agung pun berharap ada prospek kerjasama yang perlu segera ditindaklanjuti dengan nota kesepahaman yang saling menguntungkan.

 

Keberhasilan BB Biogen dalam mengembangkan protein rekombinan juga menarik minat Ka Pusvetma untuk bersama-sama mengembangkan vaksin virus penyakit Jembrana rekombinan.

 

Vaksin virus penyakit Jembrana dikembangkan dari protein kapsid virus tersebut yang disandikan oleh gen berukuran sekitar 2300 bp. Gen penyandi kapsid akan dikonstruk dalam plasmid vektor untuk diekspresikan dalam sistem ekspresi Eschercia coli. Dengan pengembangan kapsid rekombinan ini, vaksin virus penyaki Jembrana akan mudah diproduksi massal. SY/HMSL