Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

APLIKASI BIOTEKNOLOGI (REKAYASA GENETIKA) PADA BENIH TANAMAN PERKEBUNAN ANTARA IMPIAN DAN KENYATAAN

Tanggal: 1 April 2016 | Sumber: Ditjenbun | Penulis:

Pertemuan ini dilaksanakan dengan harapan mampu untuk menjembatani perkembangan teknologi perbenihan yang semakin maju dengan kebutuhan petani akan benih berkualitas yang dapat menghasilkan produksi dan produktivitas tinggi. Penerapan teknologi benih hasil PRG ini juga diharapkan mampu mengatasi berbagai kendala yang dihadapi seiring kemajuan negeri ini terutama semakin terbatasnya tenaga kerja.

Menurut Agus Pakpahan (2016), kondisi sektor pertanian di negara maju adalah luas lahan per petani meningkat dan jumlah petani menurun, namun di Indonesia tidak terjadi secara signifikan, luas lahan per petani terus menurun meskipun jumlah petani juga menurun. Berdasarkan data ini, terlihat bahwa sektor pertanian termasuk didalamnya perkebunan masih merupakan sektor yang dapat menyerap tenaga kerja yang utama  di Indonesia (sekitar 32,9% pada Tahun 2015) (BPS, 2015 dalam Arifin, 2016), meskipun jumlah lahan yang diusahakan per petani semakin menurun.  

 

Bambang Sugiharto Peneliti Benih Tebu Rekayasa Genetika (2016) menyampaikan bahan: Dalam hubungannya dengan ketersediaan air, saat ini tebu Produk Rekayasa Genetik (PRG) toleran terhadap kekeringan, hal ini telah berhasil dikembangkan oleh PT. Perkebunan Nusantara XI (Persero) bekerjasama dengan PT. Ajinomoto Jepang dan Universitas Jember. Perakitan tebu PRG toleran kekeringan tersebut dilakukan dengan transformasi gen beta dari bakteri Rhizobium meliloti, sehingga meningkatkan kandungan senyawa glycinebetain pada kondisi tercekam kekurangan air.

Saat ini juga telah berhasil dikembangkan benih tebu sintetik bebas virus. Keberhasilan pengembangan benih sintetik ini akan digunakan untuk distribusi benih tebu PRG unggul dimasa mendatang. Keberhasilan pengembangan benih tebu unggul pada giliranya akan meningkatkan produksi gula dan beberapa produk samping seperti tetes (molasses) dan ampas tebu (baggase). Tetes dan ampas tebu merupakan produk samping yang banyak dihasilkan dan dapat digunakan sebagai sumber karbon untuk fermentasi alkohol maupun senyawa lainnya.   

 

 

Menurut Bustanul Arifin (2016), Penerapan bioteknologi memiliki dua aspek/dimensi:

A. Dimensi  Positif  Aplikasi Biotenologi

    1. Kapasitas produksi menurun

    2. Pertumbuhan produktivitas rendah

    3. Transfer dan adopsi teknologi lambat

    4. Penduduk desa mengecil, kota membesar

    5. Jumlah rumah tangga petani berkurang

B. Dimensi Negatif Aplikasi Bioteknologi

    1. Kemiskinan dan pengangguran meningkat

    2. Ketimpangan pendapatan memburuk

Berdasarkan realitas yang ada di lapangan terlihat bahwa penggunaan benih hasil rekayasa genetika di Indonesia masih sangatlah rendah, bahkan benih tanaman perkebunan yang pernah dirilis hanya tebu dan kapas. Rendahnya penggunaan dan inovasi ini dikarenakan banyak faktor termasuk adanya ketakutan akan keamanan hayati, keamanan pakan, keamanan lingkungan, resistensi petani untuk menanam dan banyak lagi. Penggunaan benih perkebunan hasil PRG sudah seharusnya memperhatikan dan mempertimbangkan banyak aspek diatas, sehingga produksi, produktivitas maupun kualitas produk dan kesejahteraan petani bisa meningkat. 

 

 

Fajar Hufail, SP.

PBT  Ahli Pertama Ditjen Perkebunan

 

 Sumber:

1. Arifin, B.  2016. Dimensi Sosial-Ekonomi dalam Aplikasi Bioteknologi di Indonesia. Disampaikan pada Seminar Ikabi “Pengembangan Bioteknlogi Pertanian Indonesia”, 21 Januari 2016 di  Jakarta

2. Pakpahan, A.  2016. Benih Unggul, Produktivitas dan Kesejahteraan Petani : Hak Petani Hidup Lebih Sejahtera.  Disampaikan pada Seminar Ikabi “Pengembangan Bioteknlogi Pertanian Indonesia”, 21 Januari 2016 di  Jakarta

3. Sugiharto, B. 2016. Pengembangan Bioteknologi Tebu untuk meningkatkan Produksi Gula Nasional dan Pendapatan Petani. Disampaikan pada Seminar Ikabi“Pengembangan Bioteknologi Pertanian Indonesia”,21 Januari 2016 di Jakarta