Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

ANALISIS RISIKO JAGUNG TANPA PENGUJIAN

Tanggal: 18 September 2012 | Sumber: KOMPAS | Penulis: MAS

JAKARTA, KOMPAS – Analisis risiko yang dilakukan atas produk/komoditas jagung Bt dan jagung RR hasil modifikasi gen atau transgenik atau modifikasi genetik (genetically modified organism/GMO) oleh Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik sangat dangkal. Hal ini karena hanya berdasarkan pengkajian tanpa menguji produk/komoditas tersebut.

Menurut Koordinator Aliansi untuk Desa Sejahtera Tejo Wahyu jatmiko, Senin (17/9), di Jakarta, pengkajian keamanan pangan dan pakan yang hanya berdasarkan data sekunder dari proponen bertentangan dengan prinsip kehati-hatian. Ini tidak sesuai dengan semangat Protokol Kartagena serta UU No 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Pertimbangan empiris di negara lain tidak sahih untuk dijadikan acuan karena perbedaan lingkungan dan biodiversitas. Dalam prosesnya, kegiatan analisis resiko juga tidak ada ruang partisipasi publik.

“Kecuali pemberian ruang komentar berbasis web di Balai Kliring Keamanan Hayati. Ruang dan waktu juga sangat terbatas karena sengaja dibatasi atas nama fasilitas investor”, katanya.

Tejo juga menyayangkan pernyataan banyak pihak yang menganggap jagung transgenik Bt dan jagung RR memberi keuntungan ekonomi kepada petani dan masyarakat. Ini bisa dibuktikan dari perjalanan budidaya kapas Bt di Sulawesi Selatan tahun 2000-2003. Komersialisasi produk GMO terbukti gagal di lapangan, baik dalam meningkatkan ekonomi maupun kesejahteraan petani.

Lebih lanjut Tejo mengatakan, isu ketergantungan merupakan hal yang sangat krusial. “Dengan GMO tidak akan pernah terjadi kemandirian karena adanya perlindungan varietas tanaman paten,” ujarnya.

Banyak contoh kasus di dunia, Perschy Smeiser misalnya, yang digugat Monsanto karena tuduhan penggunaan benih tidak sah. Begitu pula petani kapas di Sulawesi Selatan yang harus menandatangai kontrak hanya boleh menggunakan benih dari perusahaan sekali saja dan harus membeli kembali. Para petani juga diikat oleh praktik jual beli yang monopolistik. “Monopoli ini merupakan model yang dikembangkan perusahaan GMO di mana pun di dunia,” ucapnya.

Lebih rinsi Tejo mengungkapkan, jagung transgenik RR NK 603 dikembangkan untuk memperluas penggunaan glyphosate. “Penjualan benih dan gerbisida didesain dalam satu paket dan merupakan teknik pemasaran Monsanto/Syngenta,” ujarnya.

Direktur Southeast Asian Regional Centre for Tropical Biology Bambang Purwantara mengatakan, tidak benar pelolosan rekomendasi keamanan pakan untuk jagung Bt dan jagung RR mengabaikan aspek kehati-hatian. “Sikap kehati-hatian merupakan sikap dasar Komisi Kemanan Hayati dan Tim Teknis Keamanan Hayati dalam setiap proses pengkajian produk rekayasa genetik,” katanya.

Karena itu, prosesnya sering panjang dan makan waktu. Pengkajian keamanan pakan, pangan, dan lingkungan selalu dilakukan sebelum dilepas. (MAS)